25. Allah Satu-satunya yang Patut dan Layak Disembah

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 15/9/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (25)

Nats: Keluaran 20:1-17

 

Dalam Keluaran 19 Allah menyatakan kebesaran keagunganNya yang boleh divisualisasikan dengan seluruh elemen alam semesta yang paling dahsyat, walaupun tetap itu semua masih belum sanggup mengungkapkan dan melukiskan kebesaran Allah Pencipta yang sudah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Guntur yang sambung-menyambung, gempa yang membelah bumi, suara sangkakala yang memekakkan telinga, membuat semua orang yang hadir di kaki gunung Sinai gemetar dengan ketakutan yang luar biasa.

Bukankah sebelum itu mereka sudah mengenal dan sudah tahu siapakah Tuhan? Bukankah Allah Yahweh itu sudah melakukan sesuatu yang secara pikiran manusia tidak akan mungkin bisa terjadi, dari perbudakan dan penindasan yang mereka alami secara sistematis selama 400 tahun lamanya? Bukankah pada waktu kita mengalami kondisi seperti itu, sewajarnya kita hanya bisa “nrimo” dan pasrah dengan keadaan yang mustahil bisa berubah? Tetapi di tengah ketidak-mungkinan, di tengah tidak ada hal yang memampukan, tidak ada kekuatan militer, tidak ada kekuatan politik, tidak ada senjata dan tentara, tidak ada hal dari diri mereka yang bisa keluar dari situasi itu, mereka hanya bisa bersandar kepada janji Tuhan yang pernah Ia ucapkan kepada Abraham dan leluhur mereka 400 tahun yang lampau. Ia adalah Allah yang tidak berubah, dari dahulu, sekarang dan selama-lamanya, Ia adalah Allah yang setia memegang janjiNya. Yang menjadi kesulitan manusa, yang menjadi kesulitan kita adalah Allah akan menggenapkan janjiNya pada waktu yang Ia tentukan sendiri. Kita menginginkan janji Allah terlaksana di dalam hidup kita pada waktu yang kita anggap baik, di dalam ‘term and condition’ yang kita anggap pas bagi kita. Tetapi apa yang kita mau, apa yang kita pikir waktu yang baik, belum tentu itu yang Tuhan mau, bukan? Sebaliknya, ketika Ia belum melakukan sesuatu, tidak berarti Ia tidak akan menggenapkan janjiNya. Kadang kita bisa jatuh-bangun di dalam belajar bersandar dan trust kepada janji Tuhan itu, tetapi kelemahan manusia tidak bisa menganulir janji Tuhan. Kadang kita bisa menjadi lemah dan kecewa dalam penantian, namun itu tidak akan menganulir janji Tuhan, sebab siapa Dia, Allah kita, itu jauh lebih penting daripada berapa kuatnya iman kita.

Bangsa Israel tahu siapa Tuhan itu; bangsa Israel melihat siapa Allah Yahweh yang sudah membawa mereka keluar dari perbudakan Mesir itu. Dan di dalam sepanjang perjalanan, Allah terus men-display bagaimana pemeliharaanNya di tengah situasi mereka yang desperate Ia memberikan air untuk mereka minum, memberikan manna, roti dari langit untuk mereka makan. Tetapi mengetahui dan mengenal Allah itu membutuhkan satu moment dimana iman mereka tidak boleh hanya disimpan secara private di dalam hati tetapi menjadi sesuatu yang diekspresikan secara publik. Iman dan pengenalan itu tidak boleh hanya saya simpan di dalam hatiku, tetapi aku harus menyatakan keluar akan iman percayaku itu. Keluaran 19 dan 20 harus kita lihat seperti itu. Allah yang sudah mereka tahu, Allah yang sudah mereka kenal, Allah yang sudah mereka alami, sekarang Ia datang dan mau mengikatkan perjanjian dengan umatNya. Dalam perjanjian itu ada promise, ada janji dariNya, akan apa yang Ia lakukan kepada orang yang menerima janji, tetapi sekaligus pada saat yang sama ada respons dari orang-orang yang mengikatkan perjanjian dengan Tuhan. Kenapa mereka harus taat dan kenapa Allah berhak menuntut ketaatan dan loyalitas yang harus direfleksikan dengan mereka menjalankan 10 Hukum ini? Anugerah mendahului ketaatan kita kepada Tuhan. Bukan karena kita lebih dahulu taat kepadaNya, bukan karena kita telah melakukan segala perintahNya lalu baru Tuhan memberikan anugerah kepada kita. Tetapi dari bagian ini kita jelas melihat Tuhan memberikan 10 Hukum, Tuhan memberikan panggilan ketaatan kepada bangsa Israel sebab Allah terlebih dahulu sudah melakukan suatu anugerah yang besar bagi mereka.

Sepuluh Hukum dibuka dengan kalimat yang pendek saja, tetapi itu menjadi dasar dari perjanjian diteguhkan. “Akulah Tuhan Allahmu yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir dan dari tempat perbudakan.” Dengan melakukan covenant ini mereka tidak hanya tahu, kenal dan alami tanpa Allah yang mereka tahu, kenal dan alami itu memberikan batasan definisi yang penting akan siapa Dia. Akulah Allah yang telah melakukan segala karya ini. Allah inilah yang harus engkau sembah dan taati sepenuhnya. Maka setelah menyebutkan hal itu, Tuhan menyatakan satu batasan definisi yang Tuhan beri kepada umatNya. “Jangan ada allah lain di hadapanKu…” Tentu Allah Yahweh itu harus dikontraskan dengan berhala dan illah-illah yang ada pada waktu itu untuk tidak boleh menjadi kompetisi dan tidak boleh disejajarkan setara dengan Allah. Waktu itu begitu banyak illah-illah yang disembah bangsa-bangsa. Ada Dagon, illah orang Filistin; ada Molokh, illah orang Kanaan, ada Baal dan Asyera, dsb. Belum lagi selama 400 tahun mereka berada di Mesir, ada berapa banyak illah Mesir yang sedikit banyak telah mengkontaminasi pola pikir dari bangsa Israel.

Dalam Roma 1:18-23 Paulus mengatakan manusia tidak mungkin bisa berdalih bahwa mereka tidak mengenal Tuhan sebab ada satu penyataan Allah yang tidak bersifat diskriminatif, dimana saja di atas muka bumi ini orang itu berada mereka tidak bisa berdalih bilang mereka tidak tahu siapa Allah sebab ada satu penyataan yang bersifat universal yang dalam bahasa teologi kita kenal dengan sebutan “General Revelation,” wahyu umum, yaitu Allah menyatakan diriNya kepada siapa saja di dalam sepanjang jaman melalui alam semesta yang diciptakanNya. Namun Paulus juga memperlihatkan kepada kita dari wahyu umum karena apa yang manusia ingin tahu akan Allah yaitu “kekuatanNya yang kekal” dan “keilahianNya” ternyata memiliki limitasi keterbatasan. Kita melihat dimana saja di dalam kebudayaan manusia konsep mengenai penyembahan terhadap satu illah, maka inilah dua aspek yang menjadi alasan kenapa mereka menyembahnya. Maka satu kelompok masyarakat atau satu kebudayaan menyembah kepada illah itu pasti karena mereka pikir illah itu berkuasa, illah itu powerful; dan yang kedua aspek divinity-nya, yaitu dia tidak sama dengan kita secara hakekatnya. Limitasi penyataan Allah di dalam wahyu umum adalah melalui alam semesta yang manusia lihat manusia hanya bisa mereka-reka pasti ada “sesuatu” di baliknya, “sesuatu” yang berkuasa yang menciptakannya. “Sesuatu” itu berbeda dengan kita. Hanya dengan Allah menyatakan diriNya secara khusus barulah manusia tahu “Sesuatu” itu adalah Ia yang datang berbicara dan berfirman kepada kita sehingga kita tahu Ia adalah Allah yang menciptakan alam semesta ini, Allah yang berkuasa, Allah yang powerful, Allah yang tidak sama dengan kita. Ia adalah Allah yang suci, Allah yang kasih, Allah yang benar, Allah yang adil, Allah yang sudah datang kepada kita di dalam Yesus Kristus. Itulah wahyu khusus yang Allah berikan kepada kita. Itulah sebabnya manusia perlu dan harus mendapatkan firman Tuhan datang berbicara kepadanya sehingga mereka bisa mengenal Allah yang sejati.

Kedua, karena dosa yang ada maka manusia mendistorsi pengenalan akan Allah yang sejati dengan dua cara. Pertama, kemuliaan Allah yang sejati digantikan dengan kemuliaan yang palsu dan fana (ayat 23), itulah yang kita sebut sebagai penyembahan berhala. Kedua, Paulus mengatakan “mereka merasa tidak perlu Allah”(ayat 28), itulah yang kita kenal sebagai Ateisme. Maka inilah dua reaksi yang kita jumpai di dunia ini menolak Allah, mereka yang menggantikan Allah yang sejati dengan berhala yang bukan Allah dan mereka yang menyatakan tidak perlu Allah di dalam hidupnya. Penyembahan berhala tidak berarti orang itu tidak mencari Tuhan. Penyembahan berhala berarti mereka mengingkari pengenalan akan Allah yang sejati dengan menggantikannya dengan allah yang palsu. Bisa jadi ini mereka lakukan dengan intention dan kesengajaan, atau bisa jadi karena mereka ditipu dan tidak mengerti. Sehingga pada waktu kita bertemu dengan orang-orang ini kita bersimpati, kita mengerti bahwa bukan mereka tidak ingin mengenal Tuhan, bukan mereka tidak mau percaya Tuhan. Maka inilah panggilan dan tugas kita memperkenalkan Allah yang sejati itu kepada mereka, Allah yang seperti apa yang aku percaya.

Pada waktu 10 Hukum ini Allah berikan jelas di sekeliling bangsa Israel bertebaran begitu banyak tiang berhala dan patung-patung penyembahan illah-illah lain. Tetapi kepada bangsa Israel ini Allah menyatakan diriNya di dalam satu deskripsi bagaimana dan dengan cara apa mereka menyembahNya. Ia mengatakan, “Tidak boleh ada allah lain padamu… tidak boleh menyembahnya… tidak boleh menggantikan Aku dengan patung-patung seperti itu.” Dari situ Allah memproklamirkan Allah yang kita percaya dan kita sembah berbeda dengan allah yang lain.

Kedua, mengapa Allah dengan tegas di awal mengatakan “jangan ada allah lain padamu,” karena betapa gampang dan betapa mudahnya orang yang mengaku percaya Tuhan bisa memiliki berhala alternatif yang kepadanya kita bersandar. John Calvin mengatakan “Our heart is the perpetual factory of idols.” Bukan soal ada patung di rumahmu baru engkau disebut sebagai penyembah berhala. Tetapi ini adalah soal hati. Hati manusia yang berdosa seperti pabrik berhala yang terus ada di dalam hidupnya. Kalimat ini biar menjadikan kita mawas diri.

Maka 10 Hukum ini memperlihatkan Tuhan sendiri tahu orang yang datang menyembahNya selalu tergoda untuk mencari berhala-berhala yang lain yang cocok buat dia, yang convenient bagi dia. Sampai kepada era Tuhan Yesus bagaimana memahami hukum yang diberikan Tuhan dengan Musa, semua hukum itu hanya bisa disimpulkan dengan dua kalimat ini, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Keluaran 20:2 menyatakan berhala itu dalam bentuk yang berwujud patung, ukiran, dsb. Mungkin kita tidak mempunyai benda-benda seperti itu dalam rumah kita, tetapi apakah panggilan Tuhan untuk mengasihiNya dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan kita itu sungguh ada di dalam hati kita kepada Tuhan? Martin Luther memberikan batasan apa itu berhala, yaitu kepada siapa hati kita bersandar lebih daripada segala-galanya, itulah berhala kita. Sama seperti Thomas Watson, seorang tokoh Puritan abad 17 berkata kepada siapa engkau trust sepenuhnya lebih daripada engkau trust kepada Tuhan, itulah berhalamu.

Idolatry adalah satu tindakan penyembahan yang dilakukan manusia di dalam lubuk hati sedalam-dalamnya, meskipun ingin mengenal Tuhan, ingin percaya kepadaNya, tetapi berhala membutakan hati manusia. Berhala itu bukan “nothing,” berhala itu “something” yang secara aktif terus berusaha merebut hati kita untuk dia kuasai. Dia membutakan mata orang yang menyembahnya. Tuhan berkali-kali mengingatkan betapa berbahayanya penyembahan berhala itu. Berhala tidak lepas dari kuasa okultisme yang ada di belakangnya. Hati manusia yang berdosa hanya menginginkan allah seperti apa yang dia mau percaya dan sembah. Itulah sebabnya melepaskan seseorang dari berhala dan apa yang mereka percayai selama ini bukan suatu hal yang mudah dan gampang.

Maka firman ini bukan hanya mengingatkan bangsa Israel tetapi juga firman yang harus selalu menggugah dan menggedor hati kita, kepada Allah yang kita percaya dan sembah, dan bagaimana Allah itu memelihara, mengatur, mengontrol dan menguasai hidup kita. Allah berhak menuntut loyalitas semua orang yang sudah Ia tebus. Allah adalah Allah yang cemburu. Allah cemburu karena itu adalah hak Dia memiliki kita sepenuhnya; menjadikan kita manusia yang Ia cinta dan kasihi; adalah hak Dia untuk memanggil dan menuntut kita menyatakan komitmen dan totalitas hidup kita sepenuhnya kepada Dia. Tidak boleh ada di dalam hati kita yang kita cintai lebih daripada Allah sendiri, Allah yang selama-lamanya sudah mencintai dan mengasihi kita di dalam Kristus Yesus.

Siapakah Allah itu yang harus kita nyatakan kepada orang lain di dalam dunia ini? Di dalam Perjanjian Lama kita melihat Ia adalah Allah yang mencipta dan menyelamatkan dan membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan. Sampai kepada Perjanjian Baru kita melihat Allah yang sama adalah Allah yang mengutus Yesus Kristus ke dalam dunia ini. Paulus di hadapan Jemaat Tuhan di Korintus juga menghadapi tantangan dan problem, ada kompetisi illah-illah yang lain di dalam budaya orang Korintus. Maka Paulus mengingatkan mereka, “Sebab sungguhpun ada apa yang disebut “allah” baik di surga maupun di bumi dan memang benar ada banyak “allah” dan ada banyak “tuhan” yang demikian, namun bagi kita hanya ada satu Allah saja yaitu Bapa, yang daripadaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup” (1 Korintus 8:5-6).

Selain Tuhan di dalam hukumNya memberikan larangan bagi umatNya untuk menyembah berhala dan illah palsu itu, Ia juga meminta kita menyatakan siapa Tuhan yang kita sembah. Bagi bangsa Israel pada waktu itu mereka hanya mengenal Allah Yahweh yang membawa mereka dari perbudakan Mesir, tetapi bagi kita yang telah menerima wahyu yang lebih lengkap kita menyembah Allah Bapa yang daripadaNya segala sesuatu berasal dan yang daripadaNya kita telah keluar dari perbudakan dosa, yang di dalam Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat kita itulah Tuhan yang kita sembah. Dan kepada Tuhan itulah selalu ada test seberapa cinta kita kepadaNya, selalu ada test seberapa bersandarnya kita kepadaNya. Jika kita katakan kita mengenal dan mengasihi Tuhan Yesus Kristus, seperti Yohanes berkata, kita wajib hidup seperti Kristus (1 Yohanes 2:6). Jikalau kita jadikan Kristus itu sebagai Saudara Sulung kita, Tuhan kita, yang kita ikut sepenuhnya, adakah hidup kita sepenuhnya dikuasai dan dibentuk sehingga kita hidup seperti Dia. Jika kita mengenal Allah itu kasih, adakah kita mencintai dan mengasihi segala perintahNya bagi kita? Jika kita mengenal Allah itu terang, maka siapa yang percaya kepadaNya hidup di dalam terang dan tidak ada yang boleh hidup di dalam kegelapan. Jika kita mengenal Allah yang suci, namun kita tetap hidup di dalam dosa, maka menjadi pendusta dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Kalimat-kalimat seperti itu mengingatkan kita menjadi satu test yang mengukur kesetiaan dan kasih kita kepada Allah.

Banyak teolog dan penulis Kristen yang menulis buku-buku yang mengingatkan kita apa saja hal yang bisa menjadi berhala di dalam hati kita, yang ujung-ujungnya menjurus kepada tiga hal ini, seks, uang dan kuasa. Jangan sampai kita menjadi lengah dan terjatuh kepada penyembahan akan hal-hal itu.

Akan harta, Ayub 31:24 dan 28 mengatakan, “JIkalau aku menaruh kepercayaanku kepada emas dan berkata kepada kencana, engkaulah kepercayaanku… maka hal itu juga menjadi kejahatan yang patut dihukum oleh hakim, karena Allah yang di atas telah kuingkari.” When I put my trust and my faith to gold and wealth, kepadanya aku bersandar, kepadanya aku menaruh hidupku, maka aku telah mengingkari Allah yang di atas sana.

Akan kuasa, Habakuk 1:11 mengatakan, “Maka berlarilah mereka seperti angin dan bergerak terus, demikianlah mereka bersalah dengan mendewakan kekuatannya.” Mudah sekali Salomo di dalam kemegahannya menjadikan kekuatan dan kuasanya hal yang lebih utama daripada Tuhan. Betapa berbahayanya kuasa kekuatan dan power menjadi berhala di dalam hidup seseorang. Orang yang mendewakan kekuatan dan kuasa lalu menjadi allah bagi hidupnya dan bagi orang lain. Dia pikir dia bisa melakukan apa saja. Orang seperti itu telah menjadikan kekuatan dan kuasa menjadi berhalanya.

Akan seks, Filipi 3:19 berkata, “Kesudahan mereka adalah kebinasaan, tuhan mereka adalah perut mereka. Kemuliaan mereka adalah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.” Perut boleh menjadi wakil dari segala desire, desire yang ingin memiliki segala-galanya untuk memuaskan hidupnya. Manusia ada dua desire yang terus ingin dipenuhi, yaitu nafsu makan dan nafsu seks. Akibatnya mereka dikuasai oleh keinginan dan nafsu yang tidak pernah bisa dipuaskan dan Paulus mengatakan pikiran mereka semata-mata dikuasai kepada hal duniawi seperti itu dan tuhan mereka adalah perut mereka.

Semua ini, sensuality, harta, kuasa, semua bisa menjadi berhala yang menggantikan Tuhan di dalam hati kita. Sepuluh Hukum adalah hukum moral yang selalu dan tetap dan berlaku bagi hidup kita. Pada waktu kita berdiri di hadapanNya, Ia yang sudah berjanji mengasihi kita sepenuhnya, seperti induk rajawali kepada anak-anaknya, di tengah kemuliaan dan kedahsyatanNya sebagai Allah yang agung dan mulia itu, kita membawa hati dan hidup kita di hadapan gunungNya yang kudus. Ia bukan memberikan hukum yang memberatkan kita, tetapi justru menjadi kelepasan dan kebebasan kita bisa bersyukur menyatakan iman dan identitas kita sebagai umatNya. Hanya Dia semata-mata Tuhan yang kita sembah, karena kita adalah perkumpulan orang-orang yang sudah Tuhan tebus, yang sekarang ini boleh berdiri di hadapanNya dan menjadikan Tuhan satu-satunya yang kita percaya dan sembah dan tidak ada allah lain bagi kita di hadapanNya.(kz)