05. Allah Beserta, Aku Bersedia

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 24/3/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (5)

Nats: Keluaran 3:5-17

 

Harus kita akui sebagian besar perjalanan hidup ini kita jalani dengan rutin adanya. Boleh dikatakan tidak banyak orang di dalam hidup ini mendapatkan hal yang surprise atau sesuatu yang merubah hidupnya 180 derajat. Kadang sebagai orang Kristen di tengah sdr menjalani hidup ini dengan rutin, sebagai orang yang jujur, rajin, pekerja keras, rela berkorban, menjadi pegawai teladan, tidak pernah merugikan orang lain, dsb muncul pertanyaan kenapa hidup sdr tidak pernah mengalami perubahan yang drastis. Kita mungkin bisa tergoda menginginkan hal yang sama kepada orang lain pun terjadi kepada kita. Tragis sekali kalau kita membaca di Amerika dua tahun terakhir ini, ketika krisis ekonomi melanda, ketika kesempatan kerja tidak banyak, ketika begitu banyak orang tidak mempunyai pemasukan tetap, justru penjualan lotere naik dua kali lipat. Di satu pihak, ada orang berpikir, ‘bagaimana saya bisa cepat keluar dan lepas dari kesulitan hidup ini, untuk mendapatkan sesuatu yang bisa merubah hidupku 180 derajat’, maka inilah cara satu-satunya yang dianggap paling memungkinkan. Sejarah memberitahukan kita yang menarik keuntungan dari situasi ini adalah bandar lotere. Memang ada orang yang akhirnya menang lotere, lalu hitung-hitung, apa yang dia dapat jauh lebih besar daripada total uang yang selama ini dia keluarkan untuk beli tiket lotere. Tetapi sebelum sampai ke sana, dia seharusnya pikir kemungkinan dan posibilitas untuk mendapatkannya begitu kecil adanya. Dia harus melihat bahwa ada orang yang sejak muda sampai mati beli lotere tidak pernah dapat-dapat.

Sulit bagi kita mengerti dan memahami perasaan Musa memasuki fase kedua hidupnya di padang gurun. Sebelumnya, dia hidup di dalam istana, penuh dengan kemegahan, posibilitas menduduki peranan penting dalam pemerintahan, semua jelas terbuka lebar dan bukan angan-angan dan impian belaka. Namun sekarang dia hidup di tengah padang gurun 40 tahun lamanya menggembala kambing domba, tidak pernah Musa menerima ucapan terima kasih dan gratitude dari kambing-kambing itu. Semua impian dan cita-citanya kandas dan tidak ada harapan akan masa depan lagi. Tetapi kepada orang yang sudah berada dalam situasi seperti itu Tuhan bisa bekerja; kepada orang yang sedang mengalami fase yang paling berat, paling sulit, paling suram dan di tengah jurang yang paling dalam dari kegagalan hidupnya, Tuhan bisa mengangkat dia dan merubahnya menjadi sesuatu yang indah di dalam hidup dia.

Nick Vujicic lahir dengan tidak memiliki tangan dan kaki. Kita tidak pernah bisa memahami betapa sakit, betapa sedih, betapa sulit dan betapa berat hatinya tumbuh dengan kondisi yang tidak bisa dia ubah seperti ini. Apa masa depan yang menanti seorang anak cacat seperti ini? Umur 10 tahun dia berusaha bunuh diri dengan tenggelam di bathtub akibat depresi karena tidak tahan menghadapi ejekan dan hinaan dari anak-anak di sekolah. Namun Tuhan merubah hidupnya to overcome the adversity and memenuhinya dengan joy and purpose. Tuhan memakai hidup orang itu menjadi agung dan indah adanya. Sekarang dia tinggal di Amerika melayani Tuhan dan menjadi inspirasi bagi setiap orang yang melihat dan berjumpa dengan dia. Nick berkata, “Just because I don’t understand God’s plans does not mean that He is not with me.” Siapakah kita yang berani berkata Tuhan tidak bisa mengerjakan hal seperti itu kepada hidup kita?

Tetapi point yang paling penting adalah engkau tidak boleh kehilangan pengharapan itu; engkau tidak boleh mempunyai mempunyai mata yang terus menatap ke bawah, melihat dengan sungut-sungut dan tidak berani memiliki pengharapan dan bersyukur kepada Tuhan untuk kesempatan kedua untuk bangkit dan membuktikan kepada Tuhan panggilan Tuhan dan hidup yang Tuhan beri adalah sesuatu yang indah dan layak dan memuliakan Tuhan.

“Musa, Musa, Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umatKu di tanah Mesir. Aku telah mendengar seruan mereka. Aku mengetahui penderitaan mereka. Sekarang Aku turun untuk melepaskan mereka…” (Keluaran 3:7-8). Kita tahu Tuhan bekerja; kita tahu Tuhan punya kuasa; kita tahu Tuhan bertindak, namun kita pun harus tahu Tuhan senantiasa mempergunakan media yang Ia cipta untuk mengerjakan apa yang menjadi rencana dan kehendakNya. Kita tidak boleh berpikir, kalau Tuhan maha kuasa, maha hebat, bukankah Tuhan bisa mengerjakan segala sesuatu sendiri? Alkitab memperlihatkan kepada kita, Allah yang kita sembah memang betul seperti itu, tetapi Ia juga adalah Allah yang mendatangkan karya keselamatanNya dengan memakai media. Pertama, media alam semesta yang Ia cipta. Allah menggunakan kekuatan angin badai, topan, api, kekuatan air yang dahsyat, semua itu selalu menjadi supporting roles yang menyertai pekerjaan Allah. Kedua, media yang Tuhan pakai adalah manusia. Allah bisa merubah batu menjadi roti, tetapi Allah memakai tangan seorang janda di Sarfat untuk mengolah tepung dan minyak dan membakar roti untuk dimakan Elia (1 Raja 17:7-16). Dari jaman ke jaman, Tuhan memanggil, mengutus dan memakai manusia untuk melaksanakan kehendakNya. Tetapi ironis, bukan? Kita menemukan semua media alam semesta yang Tuhan pakai selalu taat kepada perintah Tuhan; aneh, hanya manusia yang berani menolak dan enggan taat kepada Tuhan. Bukankah seharusnya manusia yang diciptakan lebih daripada alam, yang dicipta menurut gambar rupa Allah seharusnya lebih mengerti hati Allah, mengerti pikiran Tuhan dan mengenal Tuhan lebih dekat, jelas seharusnya dia lebih taat daripada seekor keledai mengenal Allah (Bilangan 22:21-35). Jelas manusia seharusnya mengerti isi hati Allah daripada sebuah batu mengenal Allah. Tetapi kenapa ketika Tuhan berbicara kepada alam, semuanya taat; sedangkan ketika Tuhan berbicara kepada manusia, mereka tidak taat?  Tuhan panjang sabar, Tuhan ingin kita mengenal Dia. Tuhan ingin kita yang dicipta di dalam gambarNya mengerti hati Tuhan, rela taat dipakai Tuhan, mengeluarkan pujian dan kekaguman yang indah dan harum di hadapan Tuhan.

Panggilan Tuhan kepada Musa adalah satu panggilan yang indah dan penting adanya, sebab Tuhan berulang-ulang berkata kepadanya, “You have to know… you have to understand…” betapa indahnya hati Tuhan itu. Aku melihat, Aku memperhatikan dengan sungguh dan Aku mau menyelamatkan mereka. Namun apa respons Musa terhadap panggilan Tuhan? Ada lima respons keberatan Musa terhadap panggilan Tuhan itu. Keberatan pertama adalah “Siapa saya?” (Keluaran 3:11). Keberatan yang kedua, “Kalau orang Israel bertanya, ‘Siapakah Engkau?’ aku harus jawab bagaimana?” (Keluaran 3:13). Keberatan yang ketiga, “Kalaupun saya terima tugas ini, kalau mereka tidak mau terima saya, bagaimana?” (Keluaran 4:1). Keberatan yang keempat, “Tuhan, aku gagap dan tidak pandai bicara…” (Keluaran 4:10). Keberatan yang kelima, “Tuhan, utus saja orang lain…” (Keluaran 4:13). Jelas terlihat dasar dari keberatan Musa adalah self identity dan pengenalan Musa akan dirinya sudah tidak ada lagi. Dari seorang pangeran yang penuh kebanggaan, yang punya banyak tanda jasa dan punya banyak gelar, menjadi seorang gembala, bahkan kambing domba pun milik mertua, dia tidak punya apa-apa. Maka Musa mengeluarkan keberatan pertama ini, siapa saya? Ketika kita menjalani hidup seperti ini, dari sudut mata kita itu adalah satu kegagalan. Tetapi saya percaya tangan Tuhan bisa bekerja menenun segala sesuatu di dalam setiap kelemahan, kegagalan ataupun kesalahan kita mengambil keputusan di dalam hidup, dengan hati yang cinta Tuhan dan hati yang bertobat, kita boleh berkata, “Tuhan, aku percaya Engkau dapat merubah semua ini menjadi indah bagi hidupku…” Roma 8:28 mengatakan, “Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihiNya…” Segala sesuatu itu berarti hal yang baik, hal yang buruk, hal yang indah, hal yang evil, semua yang terjadi di dalam hidup kita Tuhan bisa perbaiki menjadi indah adanya.

Tentu pada waktu Tuhan datang kepada Musa, Musa tidak bisa melihat seperti itu. Kitalah yang melihat adalah walaupun pergi ke padang gurun adalah suatu “sekolah kegagalan” bagi Musa, kita melihat dan menyaksikan bagaimana Tuhan mempersiapkan dia di situ. Ada hal yang kita pelajari di sekolah kegagalan di padang gurun yang kita tidak akan pernah dapatkan di sekolah kesuksesan di istana Mesir. Belajar menerima perlakuan yang merendahkan engkau, bagaimana menjalani sesuatu yang rutin dan seolah tidak ada manfaatnya selama 40 tahun, bagaimana menggembalakan kambing domba yang tidak tahu berterima kasih dan bisa menanduk engkau, bagaimana mengenal dan mengetahui setiap lekuk lembah dan bukit di padang gurun yang gersang, bagaimana mengerti cuaca dan climate yang unpredictable, keras dan ganas. Itu semua adalah sesuatu yang amazing sebenarnya, dan semua itu membekali Musa untuk membawa bangsanya keluar dari tanah Mesir dan menjalani jalan yang sama. Dari situ Musa tahu dimana ada sumber air, dimana ada lembah yang gelap dan berbahaya, dimana ada jurang dan tempat yang tidak bisa dijalani. Namun pada waktu Musa sedang berada di situ seorang diri, dia tidak melihatnya seperti itu. Setelah retrospective menengok ke belakang, baru dia bisa tahu semua itu adalah tenunan Tuhan yang indah untuknya. Who am I? Why these things happened to me? Tuhan tidak jawab kepada Musa, “Engkau orang yang paling cocok…” Siapa lagi orang yang bisa mengerti pola pikir orang Mesir selain orang yang pernah hidup 40 tahun di antara orang Mesir? Siapa lagi yang lebih cocok memimpin dan membebaskan orang Israel dari perbudakan mereka selain Musa? Siapa yang memiliki kompetensi, karunia dan bakat untuk tugas seperti ini? Namun Tuhan tidak memakai kalimat itu menjawab keberatan dia. Tuhan sebaliknya menjawab dia, “Bukankah Aku akan menyertai engkau?” (Keluaran 3:12a). Engkau dan saya pada waktu memutuskan untuk memilih satu pekerjaan dan karir tentu memikirkan soal cocokkah pilihan itu? Sesuaikah dengan bakat dan karuniamu? Demikian setiap keputusan untuk melakukan atau memilih sesuatu tidak akan lepas dari aspek ini, apakah orang ini orang yang cocok? Apakah dia memiliki karunia? Apakah dia punya pengalaman di situ? Tetapi Tuhan memilih dan memanggil orang bukan memakai pertanyaan-pertanyaan itu walaupun kita tahu Tuhan telah mem-prepare dan mempersiapkan dia untuk hal itu. Yang jauh lebih penting adalah Tuhan berjanji Tuhan akan menyertai dia. Itu adalah hal yang terpenting dan paling perlu bagi kita, sehingga pada waktu kita berhasil melaksanakan tugas kita sampai kepada titik itu kita tidak akan bilang semua itu akibat dari kemampuanku sendiri. Pada waktu kita sampai di situ kita hanya bilang dengan rendah hati karena Tuhan memimpin, karena Tuhan menyertai aku. Di tengah kesulitan, kegagalan dan air mata kita, biar kita berhenti dan berkata, “Tuhan, aku mau taat menjalaninya karena aku tahu Engkau menyertai aku di jalan yang berbatu ini.” Di tengah kelancaran kesuksesan, kita sampai kepada titik tertinggi yang kita raih dalam hidup ini, mari kita rendah hati dan tunduk dan berkata, “Aku sekarang ada di sini sebab Tuhan beserta dengan saya.” Betapa indah orang yang memiliki hati seperti ini.

Tuhan kemudian memberi Musa tanda penyertaanNya dengan kalimat yang kedua, “Inilah tanda bagimu bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau tekah membawa bangsa ini keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepadaKu di gunung ini…” (Keluaran 3:12b). Pada waktu itu tentu Musa belum tahu usahanya berhasil atau tidak. Bahkan kemungkinan dia bisa mati di dalam melaksanakan tugas dari Tuhan besar sekali. Tetapi pada saat ini Musa belajar memegang kata-kata Tuhan ini. Engkau tahu Aku menyertai engkau. Engkau perlu tanda bukti? Aku tidak beri sekarang tanda itu, tetapi nanti engkau akan berdiri di sini lagi, bukan disertai dengan kambing dombamu. Engkau akan berdiri di sini bersama-sama dengan umatKu yang akan berbakti kepadaKu. Itu janji yang Tuhan akan genapi.

Tidak gampang dan tidak mudah menerima hal yang seperti ini, maka Musa mengeluarkan excuse yang kedua, “Kalau mereka nanti bertanya siapa Engkau yang mengutus aku, bagaimana menjelaskannya kepada mereka?” Jawab Tuhan, “Kalau mereka bertanya kepadamu, begini jawab untuk mereka, ‘AKU adalah AKU.'” Membaca jawaban seperti ini, seluruh penafsir Alkitab setuju jawaban ini lebih banyak menimbulkan pertanyaan daripada penjelasan. Teologi mengatakan Allah itu incomprehensible but knowable. Allah tidak mungkin bisa kita pahami tuntas sepenuhnya, tetapi tidak berarti Allah tidak bisa kita kenal sebab kita mungkin tidak bisa menggali dan mencari tahu siapa Tuhan tetapi Allah bisa menyatakan diri dan memberitahukan siapakah Dia. Kita tidak bisa paham tuntas sepenuhnya mengerti Tuhan, sehingga nanti Musa akan berkata, “The secret things belong to the Lord our God, but the things that are revealed belong to us…” (Ulangan 29:29). Apa yang Tuhan bukakan menjadi sesuatu yang kita tahu, apa yang Tuhan simpan itu menjadi sesuatu yang milik Tuhan. Tetapi pada waktu Ia menyatakan diriNya kepada Musa, “AKU adalah AKU,” “Aku menyertai engkau,” itu adalah jaminan yang sepatutnya kita pegang. Maka kalimat Tuhan, “Aku akan menyertai engkau,” “AKU adalah AKU,” itu adalah satu penyataan diri Allah yang terlebih dahulu akan karakter dan sifatNya. Baru nanti dari karakter dan sifat itulah kita tahu dan kenal Allah yang layak menyandang nama itu. Allah yang menyatakan diri berarti Allah itu bukanlah Allah yang direka oleh kita sehingga kita memperalat dan memakai nama Allah dengan sembarangan. Selanjutnya di ayat 15 Tuhan akan memberi penjelasan, “Akulah TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Ishak dan Yakub…” Kata TUHAN itu adalah empat huruf konsonan YHWH dalam bahasa Ibrani yang adalah Yahweh. Allah adalah Allah yang self sustainer, Allah yang tidak memerlukan hal lain untuk menopang keberadaanNya. Allah itu adalah Allah yang tidak berubah dari dahulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Allah itu adalah Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah dari orang-orang beriman sepanjang jaman. Allahmu dan Allahku. Allah yang menciptakan dan mengontrol alam semesta, tetapi Ia juga Allah yang tidak pernah abused alam. Itu adalah suatu penyataan yang luar biasa, pada waktu Allah menyatakan diri dalam semak berapi, perhatikan Allah tidak membakar semak itu. Allah yang care seperti itu. Ia adalah Allah yang berjanji, berarti Ia adalah Allah yang tidak berdasarkan bagaimana respons dan sikap kita kepadaNya melainkan kepada janji pemeliharaanNya. Allah tidak berespons berdasarkan respons kita dulu, melainkan Ia adalah Allah yang melakukan dan berespons karena diriNya sendiri. Itulah Allah Perjanjian kita. Walaupun umat Tuhan tidak setia, Ia tetap setia, karena itu adalah hakekat dan sifat Allah (2 Timotius 2:13). Betapa sulit dan susahnya umat Tuhan berdoa dan berseru, Allah datang mendengar seruan mereka dan bertindak menyelamatkan mereka. Allah itulah yang menyatakan diri kepada Musa, dan Allah itulah yang melahirkan hati Musa yang takjub dan gemetar. Tuhan berkata kepada Musa, “…tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat dimana engkau berdiri itu adalah tanah yang kudus” (Keluaran 3:5). Tindakan menanggalkan kasut berarti bukan saja kita tidak layak menghadap Tuhan, tetapi juga satu tanda pengakuan kita adalah budak yang rendah di hadapan Tuhan. Jadi pada waktu Tuhan menyuruh Musa menanggalkan kasutnya bukan Tuhan menghina Musa, tetapi menuntut satu sikap respons yang sepatutnya dari manusia kepada Tuhan. Aku hanyalah hamba, aku hanyalah seorang yang dipakai oleh Tuhan.

Puji Tuhan, Tuhan memakai Musa. Terlepas dari perspektif dia yang merasa sudah tidak punya apa-apa dan bukan apa-apa lagi, nanti ke belakang dia akan melihat betapa baik dan setianya Tuhan mempersiapkan seorang yang tidak ada apa-apa itu menjadi alat yang indah di dalam pekerjaan Tuhan. Pada waktu kita dipakai Tuhan, ingat, Tuhan tidak pernah memperalat kita. Tuhan akan menyatakan kita makin hari makin indah, makin dekat mengenal Tuhan. Dari rasa ragu, dari rasa tidak mungkin bisa, dari rasa tidak mampu, nantinya sampai ke belakang hidup Musa kita melihat satu konklusi yang mungkin tidak akan pernah lagi terjadi, “Seperti Musa yang dikenal Tuhan dengan berhadapan muka…” (Ulangan 34:10). Semakin dia dekat dengan Tuhan, Tuhan sendiri mengatakan, “Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia terus-terang, bukan dengan teka-teki dan ia memandang rupa Tuhan…” (Bilangan 12:8). Dan semakin dekat Musa dengan Tuhan, Alkitab mengatakan Musa adalah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi (Bilangan 12:3).

Setiap manusia yang pernah berjumpa dengan Allah yang sejati pasti akan mengalami perubahan yang sungguh indah selamanya. Bukan saja dia akan menjadi a good person, tetapi dia akan menjadi a great person, a humble person. Semua itu terjadi sebab cuma satu point yang penting, kita percaya firman Tuhan berkuasa dan berotoritas memimpin seluruh perjalanan hidup kita.

Tuhan tidak memperhitungkan latar belakang setiap kita. Yang paling terutama adalah apa yang akan Tuhan bentuk dan jadikan hidup kita di depan. Itu sebab kita boleh berdiri di hadapan Tuhan dengan menanggalkan segala kebanggaan di tengah kegagalan hidup kita, menanti Tuhan memberikan jubah keindahan dari Tuhan. Kita tidak punya apa-apa selain menantikan Tuhan memberi berkat bagi kita. Sesuatu yang tidak harus kita pegang, tidak harus kita rebut, tidak harus kita rampas dari dunia yang sementara ini biar diganti dengan keindahan kita menikmati dan berjalan di dalam janji firman Tuhan. Biar kita tidak menjadi kuatir dan ragu dengan apa yang akan kita hadapi di depan. Biar kita tidak menjadi takut dan bertanya-tanya mungkinkah terjadi hal yang baik di depan. Karena kita tahu pada waktu janji firman Tuhan datang, itu disertai dengan siapa Allah yang berjanji itu sendiri. Allah yang tidak berubah, dahulu, sekarang, selama-lamanya. Allah yang berkuasa atas alam semesta ini, yang sanggup memerintahkan segala sesuatu itu menjadi keindahan bagi kita. Kita percaya kepada Allah yang suci dan adil yang mendengar dan memperhatikan setiap teriakan orang-orang yang tertindas. Itulah sebabnya kita beriman kepada Tuhan.(kz)