02. ABRAHAM & MUSA

Orang-orang Beriman yang kepada Mereka Tuhan berkata “Tidak” (2)

Keluaran 17:17-19, Ulangan 3:23-26

Pdt. Effendi Susanto STh.

5/12/2010

 

Beberapa bagian firman Tuhan yang kita baca ini menjadi bagian yang sangat menggentarkan hati karena kisah-kisah seperti ini mengingatkan kepada kita bagaimana sikap sepatutnya dan seharusnya menempatkan Tuhan sebagai TUHAN di dalam hidup kita.

Kita tidak senang kalau apa yang kita inginkan, apa yang kita mau, apa yang kita suka, apa yang kita harapkan, apa yang kita dambakan dan doakan, ternyata mendapatkan jawaban “tidak” dari Tuhan.

Kita tidak mengerti kenapa Tuhan berkata “tidak,” kita tidak bisa terima akan hal itu, lalu kita menjadi marah, kecewa, kita mencoba “bargaining” dengan Tuhan, kita mempertanyakan akan janji-janjiNya, bahkan kita mempertanyakan kebaikanNya seolah-olah Tuhan menjadi Tuhan yang jahat dan tidak mengasihi kita lagi.

Allah berkata ‘tidak’ bukan berarti Allah itu adalah Allah yang ‘joy-killer.’ Allah berkata ‘tidak’ bukan berarti Allah itu tidak mau kita hidup senang dan berbahagia di dalam hidup ini.

 

Di dalam Alkitab kita bisa menemukan pengalaman-pengalaman hidup dari orang-orang beriman, orang-orang yang tidak kita ragukan cinta mereka kepada Tuhan, orang-orang yang memiliki relasi dan hubungan yang begitu intim dan dekat dengan Tuhan, namun Tuhan pernah berkata “tidak” di dalam beberapa bagian hidup mereka dan ‘tidak’-nya Tuhan justru kepada hal-hal yang paling mereka rindukan dan paling mereka mau.

Bagaimana pergumulan mereka ketika mendengar jawaban “tidak” dari Tuhan? Bagaimana kesedihan, kekecewaan, pergumulan, air mata dan reaksi demi reaksi yang mereka nyatakan kepada Tuhan di saat-saat seperti itu? Puji Tuhan, orang-orang beriman ini menjadi contoh teladan bagi kita belajar percaya kepada Tuhan, Allah yang tidak pernah bersalah di dalam setiap keputusanNya, yang bijaksanaNya sempurna, dan yang kasih setiaNya tidak akan berubah selama-lamanya. Mereka percaya kepada Allah dengan hati yang bulat dan menempatkan Dia pada tempat yang sepatutnya dan seharusnya serta mempertaruhkan hidup sekali lagi ke dalam tangan Allah yang kepadaNya kita pun patut pertaruhkan hidup kita sebulat hati kita.

 

Pertama, kepada Abraham Allah berkata ‘tidak’ di dalam doa permohonan Abraham supaya Ismael menjadi keturunan yang Tuhan pakai menggenapi janjiNya. Ismael lahir sebagai cara yang dipakai Abraham dan Sara untuk menggenapkan janji Tuhan yang dari kacamata manusia kelihatannya tidak mungkin bisa tergenapi. Tuhan berjanji memberi mereka keturunan, tetapi bagaimana bisa kalau rahim Sara sudah tertutup? Maka satu-satunya cara yang mungkin adalah Abraham mendapat keturunan melalui rahim orang lain yaitu Hagar. Maka kelahiran Ismael bukankah “menolong” Tuhan menggenapkan janjiNya? Tuhan bilang, “tidak!”

Peristiwa penolakan Tuhan kepada Ismael di sini mengajarkan kita satu prinsip yang sangat penting: Tuhan tidak boleh menjadi ‘rubber stamp approval’ di dalam hidup kita, yang membenarkan dan mengesahkan perbuatan kita yang semau kita sendiri.

 

Yehezkiel 14 adalah bagian yang sangat menarik. Tuhan menyatakan kepada Yehezkiel bahwa orang-orang Israel sudah cukup canggih, berhala mereka sudah tidak visible lagi tidak seperti patung-patung batu tetapi merupakan berhala-berhala di dalam hati mereka (ayat 3). Seperti Friedrich Nietzsche pernah mengatakan, “There are more idols in the world than they are in realities.” Dalam Yehezkiel 14 orang Israel punya berhala di dalam hati mereka, lalu akibat berhala itu apa yang terjadi? Berhala-berhala dalam hati mereka menjadikan mereka membuat keputusan demi keputusan yang penuh dengan kesalahan. Namun yang lebih celaka, sesudah itu mereka datang minta Tuhan memberkatinya, memperbaikinya, dan meminta Tuhan memberi petunjuk kepada mereka (ayat 7). Itu langkahnya. Maka Tuhan bilang “Aku sendiri akan menentang orang itu dan Aku akan membuat dia menjadi lambang dan kiasan dan melenyapkannya dari tengah-tengah umatKu dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN…” (ayat 8). Dan nabi-nabi yang tergoda untuk membenarkan mereka, nabi-nabi itu pun akan dibunuh Allah semuanya (ayat 9).

 

Tuhan tidak mau diperlakukan seperti ‘rubber stamp’ oleh Abraham. Tuhan memang telah berjanji kepada Abraham untuk memberinya seorang anak. Memang betul tidak ada indikasi bahwa anak itu akan lahir dari Sara di dalam janji Tuhan yang pertama (Kejadian 15:4-5) tetapi toh Abraham tidak perlu lagi sedikit ‘outsmart’ Tuhan karena jelas yang Tuhan maksudkan adalah anak yang lahir dari Sara. Namun sesudah itu segera terjadi satu langkah yang diambil oleh Sara yaitu memberikan Hagar budaknya kepada Abraham untuk melahirkan anak. Jangan lupa, Abraham adalah seorang yang kaya, dia bisa melakukan apa saja di dalam kategori kita sekarang. Hagar itu adalah budak mereka yang mungkin menolak pada waktu itu pun tidak bisa. Abraham adalah seorang yang bisa mengambil keputusan, dia seorang yang mampu mengambil keputusan dan dia bisa melakukan apa saja di dalam keputusan-keputusannya sebab dia punya uang. Dan realitanya sampai sepanjang sepuluh tahun itu toh tidak ada perkembangan Sara bisa melahirkan. Lalu datanglah janji Tuhan yang kedua, dan kali ini jelas: Sara akan melahirkan (Kejadian 17:16). Bagian ini menarik dan menimbulkan interpretasi yang bermacam-macam karena di situ dikatakan Abraham bereaksi dengan tertawa dan berkata di dalam hatinya (ayat 17) lalu disambung dengan ayat 18 yang dalam terjemahan bahasa Indonesia mencatat, “Ah, sekiranya…” Abraham tertawa dalam hatinya, karena secara logika bagaimana mungkin Sara yang berumur 90 tahun bisa melahirkan. Tetapi sekaligus waktu Abraham dengar janji Tuhan ini muncul satu ‘guilty feeling’ yang sadar bahwa tindakannya memiliki Ismael itu salah. Dia tertawa dalam hati karena merasa mana mungkin cara Tuhan bisa, caraku pasti lebih benar, yaitu kan Tuhan mau saya punya anak? OK, saya akan dapatkan anak dari Hagar. Dan sepanjang lebih dari sepuluh tahun ini toh jelas kelihatan Sara memang tidak mungkin punya anak, maka sudahlah Tuhan, kurasa inilah pilihan terbaik yang saya ambil untuk mencoba melakukan apa yang sudah Tuhan janjikan kepadaku. Saya pikir ini adalah cara yang terbaik dan logika yang masuk akal. Tetapi sekaligus di situ Abraham sadar, kalau ternyata Sara melahirkan, … bagaimana? Kalimat itu menarik, sehingga banyak penafsir setuju Abraham sendiri di dalam hati sedalam-dalamnya tahu tindakan ambil Hagar adalah perbuatan yang salah. Tetapi antara logika, antara pikiran, antara mampu dan bisa, dsb dan kesadaran di dalam hati kecilnya ini bukan keputusan yang benar dalam hidupnya sekarang berkecamuk.

 

Berapa banyak orang menangis di hadapan Tuhan sudah ambil keputusan yang salah, setelah di dalam hati kecilnya sendiri sudah tahu itu salah? Sesudah itu datang menangis minta Tuhan coba ‘tipped-ex’ dan perbaiki kesalahan dia. Itulah yang kata Tuhan di dalam Yehezkiel 14 Tuhan tidak mau! No. I am not your rubber stamp.

Kadang-kadang begitu banyak keinginan-keinginan yang ada di dalam hidup kita membuat kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Keinginan untuk memiliki sesuatu, keinginan untuk memperoleh sesuatu, keinginan untuk mendapatkan pasangan hidup, dsb. Keinginan-keinginan itu begitu kuat menguasai hati kita, membuat kita bergumul, menggoda kita untuk melakukan segala cara untuk mendapatkan dan mencapai apa yang kita inginkan. Kadang-kadang di dalam pergumulan itu engkau sendiri tahu mungkin dengan dia itu ‘is not a right decision’. Mungkin ambil keputusan membeli sesuatu ‘is not a right decision’. Mungkin ambil keputusan untuk melakukan cara-cara yang tidak benar yang dalam hati kecilmu sedalam-dalamnya tahu ‘it is not a right decision.’ Tetapi kita rasa kita bisa, kita rasa kita mampu, dan kita bukan orang yang tidak beriman, kita ingin bawa hal itu kepada Tuhan, seperti orang-orang yang datang kepada Yehezkiel minta petunjuk dari Tuhan.

Tetapi jangan kita lupa dan lalai, ada beda besar antara Tuhan Allah dengan berhala. Berhala adalah allah yang kita ciptakan menurut image kita dan kita mau dia menjadi allah yang sama seperti Allah yang kita bisa minta apa saja kepada dia, cuma bedanya, berhala itu bisa kita kontrol melakukannya, berhala bisa kita kontrol tujuannya, sesuai dengan apa yang kita mau.

Kisah Abraham merupakan kata ‘tidak’ Tuhan kepada Abraham, Aku berjanji, Aku Allah yang berdaulat, Aku pakai cara-KU dan Aku bukan berhala yang bisa engkau atur. Itu sebab kisah Abraham ini merupakan satu hal yang indah bagaimana hati kita taat dan takluk kepada Tuhan; bagaimana hati kita berserah.

 

Peristiwa kedua adalah Tuhan berkata “tidak” kepada Musa.

Hubungan Tuhan dengan Musa adalah hubungan yang begitu erat, begitu intim, begitu akrab. Firman Tuhan sendiri pernah mencatat, “Seperti Musa yang dikenal Tuhan dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang seperti dia…” (Ulangan 34:10). Namun Musa yang begitu erat begaul dengan Tuhan, begitu intim, begitu akrab, tetap Tuhan pernah berkata “tidak.” Ulangan 34 mencatat pada hari-hari terakhir hidupnya, Musa naik ke atas gunung Nebo, ke atas puncak Pisga tepat di seberang Yerikho, tempat yang begitu tinggi dan dari sana dia bisa melihat seluruh negeri perjanjian yang Tuhan akan berikan kepada bangsa Israel dari ujung ke ujung. Betapa permai tanah perjanjian itu, betapa subur dan kaya. Betapa ingin Musa masuk ke tanah itu dan menikmati janji Tuhan digenapi. Tetapi betapa tak terbayangkan perasaan hati Musa ketika Tuhan berkata kepadanya, “Aku mengijinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan masuk ke tanah perjanjian.” So close yet so far.

Paling tidak ada tiga kali dicatat di dalam Alkitab Musa memohon, “O God, I beg You… please…” Musa berdoa, Musa memohon dan meratap, meminta belas kasihan dan pengampunan Tuhan (Ulangan 3:23-27). Betapa besar kerinduan Musa, betapa ingin dia masuk ke tanah Kanaan. Tuhan di dalam kemurkaanNya tidak mengijinkan Musa memperoleh apa yang dia minta. Tuhan berkata kepada Musa, “Sudah! Cukup! Jangan lagi bicarakan hal itu dengan Aku!” Kenapa sampai Tuhan seperti itu? Apa sebenarnya kesalahan Musa yang dianggap Tuhan begitu fatal dan sepatutnya menerima konsekuensi dari kesalahannya dan tidak mencabut konsekuensi itu sampai akhir? Ulangan 32:51 mengatakan, “Oleh sebab kamu telah berubah setia terhadap Aku di tengah-tengah orang Israel dekat mata air Meriba di Kadesy di padang gurun Zin…”

Musa mempersalahkan orang Israel yang menyebabkan dia harus menanggung hukuman yang begitu berat dari Tuhan. Musa mengatakan, “…karena kamu maka aku tidak bisa masuk” (Ulangan 3:26). Mazmur 106:32-33 mencatat, “Mereka menggusarkan dia dekat air Meriba sehingga Musa kena celaka karena mereka sebab mereka memahitkan hatinya sehingga dia teledor dengan kata-katanya.”

Perlu kita ketahui Alkitab mencatat dua peristiwa yang memiliki kemiripan dan uniknya, dua-dua peristiwa diberi nama tempat yang sama yaitu Meriba meskipun dua peristiwa itu berselisih waktu 40 tahun. Peristiwa pertama waktu mereka baru keluar dari Mesir menuju ke gunung Sinai (Keluaran 17:1-7) dan peristiwa kedua terjadi di daerah pegunungan Moab waktu hampir masuk ke trans-Jordan (Bilangan 20:2-13). Dalam peristiwa pertama Musa melakukan tepat seperti apa yang Tuhan perintahkan yaitu memukul gunung batu dengan tongkatnya dan keluarlah air dari batu itu (Keluaran 17:5-6). Kali kedua, Alkitab mencatat Musa tidak menaati Tuhan. Tuhan menyuruh Musa untuk mengatakan kepada bukit batu untuk supaya mengeluarkan air. Tetapi Musa di dalam kemarahan berkata kepada orang-orang Israel, “Hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” Dan selanjutnya Musa mengangkat tongkatnya dan memukul bukit batu itu dua kali (Bilangan 20:8-11). Di situlah kemudian Tuhan berfirman kepada Musa, “Karena kamu tidak percaya kepadaKu dan tidak menghormati kekudusanKu di depan mata orang Israel, kamu tidak akan masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka” (Bilangan 20:12).

Mengapa Musa begitu marah, begitu murka dan begitu emosional sehingga dia teledor dan tidak melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepadanya? Mazmur 106 memberikan kita konteksnya, sebab mereka yaitu orang Israel menggusarkan dia dan memahitkan hatinya (ayat 32-33). Kita kembali kepada catatan Bilangan 20:1, apa yang baru terjadi dengan keluarga Musa di situ? Siapa yang baru meninggal? Miriam, kakak Musa baru saja meninggal. Bangsa Israel ini memang tidak tahu diri, bangsa Israel ini memang tidak punya perasaan, tidak punya simpati. Bangsa Israel ini betul-betul egois dan hanya mementingkan urusan sendiri. Keluarga Musa sedang berada dalam masa kedukaan, kehilangan anggota keluarga yang begitu mereka kasihi. Orang Israel menggerutu dan memaki-maki Musa, “Mengapa kamu membawa kami ke padang gurun ini supaya kami dan ternak kami mati di situ? Mengaka kamu membawa kami ke tempat celaka ini, tidak bisa menabur, tidak ada pohon apa-apa yang bisa dimakan, bahkan air minum pun tidak ada?” (Bilangan 20:4-5). Orang Israel ini hanya pikir soal bagaimana saya minum dan makan. Dalam keadaan Musa yang berkabung, sudah cape, sedih, mungkin kita bilang wajar akhirnya dia bereaksi dan mengeluarkan kata-kata yang keras? Mungkin kita bilang wajar akhirnya Musa tidak mentaati perkataan Tuhan dan memukul gunung batu itu dengan tongkatnya, bahkan dua kali.

 

Pertengkaran di dalam hidupmu sebagai suami isteri tidak mungkin terjadi dengan vacuum. Setiap kali kita ribut dan bertengkar dengan orang yang kita kasihi tidak pernah lepas dari konteks, dan di tengah konteks itu kita mencari pembenaran. Kita bilang Musa wajar marah, Musa wajar mengeluarkan kata-kata yang keras. Orang Israel tidak mengerti perasaan dia, kakaknya baru saja meninggal. Namun mari kita melihat peristiwa ini dalam konteks itu, hanya sedetik seketika sesuatu ‘snap’, dan di situ Tuhan bilang engkau sudah melanggar kekudusanKu. Point itu yang bahaya. Di dalam kemarahan dan kemurkaan Musa menjadi teledor dan melakukan kesalahan yang begitu fatal. Kita tidak bisa bilang, kok Tuhan sendiri tidak mengerti situasi yang menyebabkan Musa melakukan kesalahan itu? Kok Tuhan malah menghukum Musa dengan hukuman yang sangat berat cuma hanya karena Musa memukul gunung batu itu dengan tongkatnya dua kali? Toh bukankah tetap keluar banyak air batu batu gunung itu sehingga orang Israel bisa minum dengan puasnya?

Kita tidak boleh melihat peristiwa itu sebagai peristiwa yang ringan dan remeh. Kita tidak bisa membela Musa, situasi hatinya, penyebabnya, dan menganggap Tuhan bersikap terlalu keras kepada Musa. Kita harus mengerti dalam konsep terang Perjanjian Baru, apa makna di balik dari peristiwa ini sehingga kita tahu betapa seriusnya Musa telah melanggar kekudusan Tuhan di dalam tindakannya yang akhirnya membuahkan hukuman Tuhan kepadanya. Rasul Paulus mengatakan, “Nenek moyang kita semua minum minuman rohani yang sama sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus…” (1 Korintus 10:4).

 

Itu sebab mari kita belajar menjadi seorang Kristen yang sungguh beriman kepada Tuhan, yang taat kepadaNya. Terlalu sedih hati kita tatkala Tuhan berkata ‘tidak’ kepada rencana maksud tujuan apa yang sudah kita pikirkan namun biar hati kita takluk pada hari ini tatkala kita ingat dan tahu, Tuhan itu Allah yang berdaulat mencintai mengasihi kita, yang melakukan apa yang terindah dan terbaik bagi kita. Jangan menjadikan Dia sebagai Allah yang bisa kita atur dan kontrol di dalam hidup kita untuk mengikuti sesuatu yang kita sudah rencanakan sendiri di dalam ketidak-setiaan kita kepada Tuhan. Biar hari ini hati kita berbalik, hari ini kita berlutut kepada Tuhan, ‘Saya percaya kepada Tuhan yang merencanakan kepada hidup saya pasti adalah rencana yang terbaik bagi saya.’ (kz)