01. You Matter to God

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri “Mengalami Allah dan PenyertaanNya” (1)
Nats: Mazmur 139

Kita adalah satu-satunya mahluk yang Tuhan ciptakan yang memiliki memori dan tidak bisa melepaskan apa yang sudah lalu dan tidak bisa melepaskan kekuatiran hati terhadap apa yang akan datang. Sebagai orang yang tidak pernah terlepas melihat, merefleksikan dan menggumuli apa yang sudah lewat, dan sebagai orang yang tidak pernah bisa lepas dengan membandingkan dan mengkomparasi dengan orang lain, mungkin yang harus kita perbaiki adalah dengan cara dan standar apa kita merefleksikan hidup kita dan dengan cermin apa kita mengkomparasi hidup kita.

Siapakah aku? Seberapakah nilai hidupku, seberapa berharga dan berhasilnya aku? Kita tidak akan pernah luput membandingkan diri dengan orang lain; kita tidak akan pernah luput melihat hari ini lewat tidak akan pernah menjadi sesuatu yang hilang begitu saja di dalam hidup ini, itu akan menjadi masa lalu kita, dan itu akan tetap bisa kita refleksikan di dalam hidup ini. Tetapi bolehkah kita menilai diri kita dengan perbandingan seperti itu? Kita akan selalu guilty, kita akan selalu merasa tidak berhasil, pada waktu kita meletakkan satu standar yang sudah terdistorsi dalam hidup ini. Pada waktu kita menilai kesuksesan hidup kita seturut dengan standar kesuksesan dari dunia ini, apa yang kita achieved, apa yang kita accomplished dalam hidup ini, kita perlu bertanya apa betul itu cermin yang harus kita taruh dan letakkan di depan wajah kita? Pada waktu kita merasa tidak berhasil, pada waktu kita merasa sebagai ‘nobody’ di dalam hidup ini, terutama pada waktu kita membandingkan diri dengan orang lain, dengan apa yang telah dicapai oleh orang lain, mungkin sudah waktunya dan sudah saatnya kita bertanya di dalam hati kita apakah itu cermin yang patut dan harus saya letakkan di hadapanku?

Beberapa minggu ke depan saya rindu mengajak sdr kembali mengalami Allah dan penyertaanNya. Dengan melihat melalui cermin terang firman Tuhan menerangi hidup kita, menjadi satu cermin yang merefleksikan ‘the true you’, merefleksikan hidup kita seutuhnya di hadapan Tuhan, di situlah kita menilai diri dengan benar. Jika kita terus ingin memenuhi tuntutan orang, ekspektasi orang, keinginan orang terhadap hidupmu, dan sekali lagi jikalau itu menjadi standar yang terdistorsi, kita tidak akan pernah ada sukacita, kita tidak akan pernah punya hati yang bersyukur dan kita hanya akan melihat hidup kita kurang dan tidak pernah menghasilkan apa-apa. Tetapi pada waktu kita merendahkan diri di hadapan Tuhan, terang firman Tuhan sekali lagi menjadi cermin yang memberikan cahaya, membuat kita memahami siapa kita di hadapan Tuhan, melihat yang sudah lewat selalu menjadi kekuatan yang indah untuk kita bisa melihat apa yang di depan. Paulus pernah berkata, “…Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku…” (Filipi 3:13).

Mazmur 139 merupakan satu cermin yang indah pada waktu Daud berdiri di hadapan Tuhan, dia melihat siapa Tuhan yang dia sembah, bagaimana pengenalannya dan pengalamannya bersama Tuhan melahirkan satu mazmur yang boleh menjadi berkat yang indah bagi kita.

Bagian pertama, ayat 1-6, terjemahan bahasa Indonesia begitu kaya mencoba menggunakan semua kosakata yang ada untuk menjelaskan penggunaan kosakata dalam bahasa Ibrani yang memang begitu kaya menggambarkan bagaimana Tuhan mengenal kita sepenuhnya dan setuntasnya.

“Engkau menyelidiki… Engkau mengenal aku…” (ayat 1). “Engkau mengetahui, Engkau mengerti pikiranku…” (ayat 2). “Engkau memeriksa aku… segala jalanku Kau maklumi…” (ayat 3). “…sebelum aku berkata semuanya telah Engkau ketahui” (ayat 4). “Engkau mengurung… Engkau menaruh tanganMu…” (ayat 5). Dari segala dimensi hidup kita di hadapan Tuhan terbuka lebar, duduk atau berdiri, berjalan atau berbaring, pikiran dan jalan, perkataan atau perbuatan, semuanya Tuhan tahu.

Dunia yang sudah obsesi dengan achievement dan pencapaian begitu mudah membuat kita merasa “I am nobody” dan kecewa dengan diri kita. Membandingkan diri dengan fenomena di sekitar, orang-orang di sekitar begitu mudah membuat kita menjadi rendah diri dan kecewa dengan diri kita. Menaruh mimpi-mimpi yang tidak pernah tercapai di dalam realita yang ada sekarang begitu mudah membuat kita merasa sia-sia menjalani hidup ini.

Mazmur 139 membuka hati dan pikiran kita untuk mengalami siapa Tuhan yang kita percaya dan kita sembah. Semua persepsi kita yang salah dan buram hanya bisa kita lihat dengan jelas dari terang firman Tuhan yang mengkoreksi apa yang kita lihat hari ini. Kita takut, kita kuatir apa yang akan terjadi di depan, kita tidak mengerti apa yang sudah kita rencanakan mungkinkah bisa terjadi dan terealisasi. Tuhan mengenal kita bukan hanya secara fragmental. Segala sesuatu yang ada pada kita dikenal dan diketahui olehNya dengan tuntas, termasuk hal-hal yang kita tidak tahu ada pada kita. Biar hal ini membuat hati kita menjadi teduh dan tenang. Tahun ini akan segera lewat di dalam anugerah Tuhan, dan tahun yang akan datang di dalam ketidak-mengertian kita masuki dengan percaya Tuhan melihat, Tuhan mengetahui, Tuhan jaga, Tuhan lindungi, Tuhan pimpin, Tuhan berkati. Itulah yang menjadi respons Daud ketika menyadari hal ini, “Betapa ajaib pengetahuan itu bagiku! Betapa tinggi untuk kumengerti” (ayat 6).

Mengalami Tuhan dan penyertaanNya, yang mengerti dan mengetahui kita dengan setuntas-tuntasnya mungkin bisa membuat kita takut dan kuatir, sebab tidak ada rencana kita, tidak ada pikiran kita yang tersembunyi dari hadapan Tuhan. Kita kuatir dan kita takut jikalau rancangan yang kita rancang dengan tidak benar di hadapan Tuhan sambil kita berpikir bahwa kita bisa menyembunyikan hal itu dari hadapan Tuhan, namun pada saat yang sama kita sadar dan tahu tidak ada hal yang kita bisa sembunyikan di hadapan Tuhan.

“Jika aku berkata, ‘Biarlah kegelapan saja melingkupi aku dan terang sekelilingku menjadi malam,’ maka kegelapan pun tidak menggelapkan bagiMu dan malam menjadi terang seperti siang, kegelapan sama seperti terang” (ayat 11-12).

Kita wajar menjadi takut jikalau ada hal-hal yang kita lakukan dan kerjakan di dalam hidup ini di dalam ketidak-taatan kepadaNya. Namun sebaliknya, pada waktu kita merencanakan sesuatu, kita memikirkan sesuatu, kita melakukan sesuatu, dengan hati yang tulus kepadaNya, dengan sikap yang benar kepadaNya, dengan hati yang takut dan respek membawa apa yang sudah kita pikir dan rencanakan itu, meskipun kita tidak tahu apakah itu akan terjadi dan terealisir, dengan pengertian kita bahwa Allah mengetahui dan mengerti setuntas-tuntasnya akan mendatangkan sikap yang ‘awesome’ di dalam hati kita; seharusnya mendatangkan sikap pujian kita saat kita datang menyembahNya dan berkata seperti Daud, “Betapa ajaib Engkau ya, Tuhan, yang mengerti akan aku dengan setuntas-tuntasnya.”

Bagian kedua, ayat 7-12, “…kemana aku dapat pergi… kemana aku dapat lari…?” menggambarkan secara humoris seperti anak kecil main petak umpet, mau sembunyi dimana? Tetapi sekaligus ayat ini ingin berbicara perasaan hati manusia yang tidak mau Allah aktif berbagian membentuk kita, lalu kita mencoba lari dari pengetahuan Allah seperti itu. Aspek kedua dari bagian ini, Pemazmur mengingatkan bahwa Allah tidak pernah pasif, Allah selalu aktif menyertai dan membentuk kita. Mungkin kita kecewa dan kita merasa hidup rohani kita tidak maju-maju. Mungkin kita kecewa dan kita merasa bakat dan talenta kita tidak berkembang. Mungkin kita kecewa dan kita merasa apa yang kita kerjakan tahun ini tidak seproduktif dan seefektif tahun lalu. Mungkin kita kecewa dan kita merasa kita belum memberi banyak kepada Tuhan di tahun ini. Atau sebaliknya engkau sudah puas dengan keadaanmu sekarang, yang penting aku rajin berbakti kepada Tuhan, yang penting aku tetap menjadi orang Kristen yang baik, dan aku puas akan hal itu. Tetapi mungkin Tuhan mengingatkanmu hari ini, masih banyak hal yang Tuhan ingin bentuk dan kerjakan bagimu, keengganan kita tidak pernah akan membuat Tuhan lepas tangan dan tidak aktif mengejar, mencari, menuntut dan membentuk kita seturut dengan gambar Kristus, AnakNya yang tunggal itu. Itulah sebabnya kita harus memahami keindahan bagaimana Tuhan mengejar kita pada waktu kita pasif tidak lagi mengejar Tuhan; Tuhan akan memberi menjadi lebih indah pada waktu kita kurang mengalami Tuhan; Tuhan tidak akan berdiam dan pasif dan akan mengejar kita pada waktu kita merasa kita sudah cukup dan puas dengan kondisi spiritual kita. Ia akan mengejar kita sampai kita menghasilkan ketaatan dan bekerja sama yang Ia tuntut. Akhir dari semuanya itu adalah Ia akan membuat kita lebih mengasihi Tuhan, lebih indah dan lebih suci. Di situlah kita bisa melihat kalimat Pemamur ini, “Kemana aku dapat pergi menjauhi RohMu? Kemana aku dapat lari dari hadapanMu?” Allah mengejar bukan untuk menakutkan engkau, Allah mengejar sebab Dia ingin memberi lebih indah, lebih banyak, lebih berlimpah di dalam hidup engkau dan saya. Allah mengejar kita, Allah menuntut kita tidak dengan maksud tujuan membuat hal yang buruk dan mempersulit hidup kita. Dia akan selalu memanggil kita di dalam hati yang penuh dengan pengampunan dan persahabatan yang sejati dari Tuhan supaya kita makin serupa dengan Kristus. Adakah kita mengejar Tuhan lebih giat, lebih cepat, lebih dalam tahun ini?

“Your hand will guide me, and Your right hand powerfully hold my hand…” (ayat 10). Ini adalah dua lukisan yang berbeda. “Your hand will guide me” menjadi keindahan kebenaran Allah tidak pernah lepas tangan memimpin hidup kita. “Your right hand strongly and powerfully hold my hand” menyatakan pimpinan Tuhan selalu memberikan keamanan dan ketenangan kepada engkau dan saya.

Tidak ada anak-anak Tuhan yang “nobody” di hadapanNya. Tidak ada anak-anak Tuhan yang boleh berpikir Allah Bapa di surga masa bodoh dengan apa yang engkau kerjakan di dalam hidup ini, menganggap hidupmu tidak important untuk tidak diperhatikan olehNya. Ketika engkau merasa Tuhan tidak peduli dan tidak take care, hari ini biar firman Tuhan sekali lagi mengingatkan kita, Allahmu bukan saja Allah yang mengenal apa yang menjadi kekuatiran hatimu, apa yang menjadi ketakutanmu, apa yang menjadi rencanamu, masa depanmu. Dia kenal engkau setuntas-tuntasnya. Dan Dia akan pursue relationship dengan engkau dan tidak akan tinggal diam berhenti sampai Dia menjadikan engkau dan saya indah di mataNya, di dalam anugerahNya bagi engkau dan saya. Kenapa kita perlu kecewa, malu, marah, takut dan kuatir dengan memakai cermin yang tidak benar di depan kita? Tahun ini akan segera lewat, dan doaku biar tahun ini kita tutup dengan pengharapan dan pengertian dari terang firman Tuhan yang indah ini.

Bagian ketiga, ayat 13-16a “I will praise Thee for I am fearfully and wonderfully made! Marvellous are Thy works and my soul know it well…” Di dunia purba belum ada USG, raja Daud hanya bisa membayangkan bagaimana rupa bayi dalam kandungan isterinya. Tetapi Roh Kudus yang mengiluminasi dia menuliskan dengan indah dan mengagumkan bagaimana Tuhan membentuk dan menenun bayi dalam kandungan ibu. Dengan kemajuan dunia kedokteran sekarang semakin kita kagum dan takjub bagaimana Tuhan membentuk dari sebuah sel menjadi sesosok manusia dengan luar biasa. Mulai dari jantung, otak, sistem pencernaan, sistem peredaran darah, setiap anggota tubuh kita dibuat dengan fungsi dan kemampuan yang begitu menakjubkan. Kita dicipta, kita ditenun dengan begitu teliti di dalam kandungan, masing-masing memiliki keunikan, masing-masing memiliki perbedaan. Kalau kita semua dicipta dengan indah dan unik oleh Tuhan, kita jangan lagi melihat nilai diri kita dengan membandingkan dengan orang lain. Mari kita masing-masing melihat bagaimana indahnya Tuhan menciptakan dan membentuk kita masing-masing di dalam hidup ini.

Paulus memakai ilustrasi keindahan harmonis Tuhan menciptakan tubuh sebagai gambaran bagi Gereja Tuhan (band. 1 Korintus 12:12-27). Di situ Paulus mengingatkan Tuhan mendesain begitu indah setiap anggota tubuh memiliki fungsi dan tugas yang berbeda dan masing-masing tidak boleh menganggap diri lebih superior daripada anggota tubuh yang lain atau merasa inferior dan lebih kurang daripada yang lain. Saya rindu Gereja kita memiliki jiwa yang seperti ini, saling membangun, saling melengkapi dengan harmonis, saling bekerja sama. Bukan soal berapa banyak uang yang kita dapat, tetapi berapa harmonis dan indahnya mekanisme pekerjaan Tuhan berjalan dengan baik. Setiap kemampuan, keahlian, talenta, bakat, karunia, kesempatan, semua menjadi sinergi yang saling berkontribusi, bergerak sama-sama.

Bagian keempat, ayat 16b-18 Pemazmur berkata, “Semua hari-hariku tertulis dalam kitabMu…” sebelum hidup kita dimulai, sebelum kalender penanggalan terjadi, semua sudah lengkap tertulis dalam kitab Tuhan. Bukan saja Allah mengenal kita, bukan saja Allah ingin mengejar dan membentuk kita seturut apa yang Ia mau, bukan saja Allah membuat kita dengan dahsyat dan ajaib, bagian ini memberitahu kita Allah punya rencana dan maksud yang indah bagi engkau dan saya. Bagi Pemazmur kalender hidup kita adalah kalender yang ada di dalam tangan Tuhan. Ada rencana dan planning kita mengisi kalender hidup kita, tetapi jangan pernah lupa Allah memiliki rencana yang indah bagi engkau dan saya.

Dalam Yeremia 29:11 Tuhan berkata kepada umatNya, “Aku mengetahui rancangan-rancangan apa yangada padaKu mengenai engkau, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Paulus berkata, “Kita adalah buatan Allah yang diciptakan di dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang Allah telah persiapkan sebelumnya…” (Efesus 2:10). Itulah rencana pembentukan Tuhan bagimu, sehingga biar dari hati kita lahir satu ucapan syukur seperti Pemazmur berkata, “How precious are Thy thoughts unto me, o God! How great and incomprehensible!” (ayat 17).

Tahun ini apa yang telah kita kerjakan, apa yang telah kita alami, apa yang kita hadapi, apa yang terbentuk dalam hidup engkau dan saya, mari kita bercermin kembali dengan firman Tuhan ini. Rancangan Tuhan bagi kita adalah rancangan kebaikan dan pengharapan bagi masa depanmu. Rancangan Tuhan tidak pernah menjadi rancangan yang menghancurkan anak-anakNya. Engkau adalah buatan tangan Allah, His workmanship, seperti bejana yang akan Ia bentuk dan persiapkan masing-masing kita dengan indah bagi pekerjaan Tuhan. Inilah firman yang menjadi cermin yang benar ketika kita berdiri di hadapan Tuhan menutup tahun ini.

Bagian terakhir, ayat 19-22 nada Pemazmur berubah ketika dia berbicara soal orang-orang fasik yang melakukan kejahatan dan membenci Tuhan. Kenapa Pemazmur dari ayat 1-18 berbicara tentang keindahan Tuhan membentuk dan mengenal kita, lalu tiba-tiba berpindah kepada topik ini? Ayat-ayat ini perlu dan penting luar biasa ditaruh di situ sebelum nanti di ayat 23-24 dia berbicara soal komitmen dan respons kepada Tuhan, mengingatkan sebagai suatu kontras inilah cermin yang seringkali mendistorsi hati kita. Jangan pakai persepsi dunia yang sudah didistorsi oleh dosa. Ambil tindakan lari dan membenci cara-cara dunia memberikan sudut pandang, nilai dan pemahaman kepada diri yang tidak benar. Dunia selalu beroposisi terhadap apa yang Tuhan kerjakan. Yang Tuhan kerjakan baik akan dikatakan tidak baik oleh dunia ini, sehingga kita akan dibuatnya tidak akan pernah puas, dipenuhi oleh guilty feeling, tidak signifikan, nobody, dan tidak baik setiap kali kita bercermin di depannya. Ada banyak standar yang tidak masuk akal, standar excellence dari kesuksesan dan kesempurnaan dari berapa banyak yang bisa kita capai, berapa banyak yang kita hasilkan, berapa banyak yang bisa rebut dari orang lain. You matter to God.

Dosa akan selalu ‘vandalised’ setiap ciptaan Tuhan yang baik.  Dosa selalu aktif merubah kebaikan Tuhan menjadi hal-hal yang buruk di dalam persepsi kita. Itulah sebabnya Pemazmur ingatkan kita, setelah kita tahu Allah itu mengenal kita, Allah mengejar relationship dengan kita, Allah menciptakan kita dengan unik dan indah, Allah punya rencana indah bagi kita, maka bagian ini memberi warning kepada kita, hati-hati kepada dunia ini penuh dengan kejahatan dan dosa, sehingga kita disa dijebak untuk lari dari Tuhan dan dari apa yang Ia rancang bagi hidup kita.

Maka Mazmur ini ditutup dengan satu respons dan komitmen yang begitu indah. “Search me, o God, and know my heart. Try me and know my anxious thought. See if there be any offensive way in me and lead me in the everlasting way…” Biar setiap kita rela meminta dan menerima koreksi dari Tuhan, koreksi dari cermin yang benar, cermin dari firman Tuhan dan bukan kata-kata dunia ini; cermin dari cinta Tuhan dan bukan acceptance dari orang-orang dunia; cermin dari rencana dan rancangan Tuhan yang indah dan tidak tergoda memakai cara dan permainan dunia. Jika spirit dunia terlalu mempengaruhi dan memenuhi hati kita, itu akan membuahkan hati yang penuh kuatir, anxious, cepat-cepat dengan gegabah mengambil jalan sendiri.

Kita bisa menjadi penghambat meskipun tidak 100% bisa menghambat rencana dan kuasa Tuhan yang lebih besar membentuk kita. Setidaknya ada dua hal yang bisa kita lakukan menghambat atau memperlambat anugerah Tuhan dalam hidup kita. Pertama, seberapa level komitmen kerja sama kita dengan Tuhan dalam hidup ini. Kedua, seberapa dalam level komitmen kita kepada Tuhan hari ini. Setiap hari menjadi sebuah kesempatan baru untuk kita bekerja sama dengan rencana Tuhan di dalam hidup ini. Mari kita perbaharui kembali komitmen kita, waktu kita, hari-hari kita, bakat, pikiran kita kepada rencana Tuhan. Mari kita alami Tuhan dan penyertaanNya secara real dalam hidup kita. Jangan biarkan kita menunda melakukannya. (kz)