03. Willingness to take Responsibility

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri Peperangan Orang Kristen (3)
Nats: Hakim-hakim 4 – 8

Hati kita tidak akan habis-habisnya kagum melihat bagaimana Tuhan menyertai setiap kita, bagaimana Tuhan memberikan pengalaman-pengalaman yang tidak pernah kita duga dan pikirkan. Di tengah hal-hal yang lancar, sukses dan baik kita alami di tahun yang lalu, dan kita harapkan itu bisa kembali terjadi di tahun ini, tetapi mari kita bersiap kalau Tuhan memberi cara dan jalan yang lain untuk kita jalani. Kita percaya dan bersandar kepada Tuhan dan tidak undur di dalam setiap apa saja yang Tuhan berikan, di situ kita menghargai Tuhan dan memuliakan Tuhan. Kita melakukan pekerjaan sehari-hari, kita bergumul dengan tantangan di dalam pekerjaan, bergumul di dalam membesarkan anak-anak, bergumul dengan cita-cita kita, bergumul dengan relasi dengan orang-orang di sekitar, bergumul bagaimana mempertumbuhkan hidup keluarga kita, relasi yang indah antar suami isteri, di dalam pelayanan gerejawi, bergumul bagaimana melayani Tuhan dengan indah dan lebih baik. Apapun yang kita kerjakan dan lakukan, jangan pernah berpikir untuk mengerjakan semua itu dengan cara kita sendiri dan dengan cara yang dunia ini pakai, karena mengerjakan segala hal di dalam dunia ini kita hanya bisa survive jikalau kita mengerjakannya dengan cara Tuhan.

DR. Francis Schaeffer, seorang teolog Reformed pendiri L’Abri Fellowship tahun 1955 adalah seorang pemikir intelektual dan spiritual yang sangat berpengaruh, memperlengkapi anak-anak Tuhan untuk bagaimana menghadapi tantangan dan serangan orang yang tidak percaya. Mereka diperlengkapi untuk menjadi orang Kristen yang lebih efektif di dalam setiap aspek dan bidang studi dimana saja mereka menghadapi tantangan itu. DR. Schaeffer pernah mengatakan, “Dunia ini begitu keras dan kita tidak mungkin berhasil dan tidak akan mungkin bisa menghadapinya tanpa bersandar kepada kuasa Tuhan. Dan setiap anak Tuhan yang mau mengerjakan pekerjaan Tuhan tidak akan pernah berhasil jikalau mereka tidak mengerjakannya dengan cara Tuhan.” Melakukan pekerjaan Tuhan dengan cara Tuhan.

Ada dua peperangan dalam kitab Hakim-hakim yang sangat kontras antara peperangan yang dihadapi oleh Debora dan Barak, serta peperangan yang dihadapi oleh Gideon, di pasal 4-8. Ini adalah dua peperangan yang sangat berbeda, dengan hasil yang berbeda, menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi kita apa yang menjadi kekuatan keberhasilan mereka dan kelemahan kegagalan yang mereka alami. Debora, Barak dan Gideon dipanggil oleh Tuhan untuk terjun ke dalam peperangan. Itu adalah peperangan fisik, sebagai panglima mereka mengenyahkan tentara-tentara musuh di dalam peperangan itu. Tetapi sekalipun peperangan ini adalah peperangan fisik, umat Israel di dalam peperangan ini senantiasa diingatkan oleh Tuhan bahwa di balik dari kemenangan suatu peperangan, mereka tidak boleh mengabaikan tangan kekuatan Tuhan dan kuasa Tuhan di belakang semua kemenangan itu. Sekalipun Barak memiliki tentara yang banyak dan Tuhan memakai dia di dalam peperangan, tetapi Tuhan tetap mengingatkan di belakang kemenangan itu the honour and the glory harus kembali kepada Tuhan.

Rev. John Piper berkata setiap kita yang hidup mari kita me-magnify Allah di dalam hidup ini, memuliakan Dia dan membesarkan Dia senantiasa. Saya harap kepada setiap kita tahun ini apapun yang kita capai dari segala yang kita kerjakan dan lakukan, apapun yang engkau dan saya alami di dalam pergumulan hidup kita masing-masing, kita menghadapi peperangan rohani dan saya rindu di dalam setiap hal itu kita makin berkurang dan Tuhan semakin besar di dalam hidup ini. Di tengah setiap kesuksesan kita merendahkan diri dan Allah semakin diagungkan dan dimuliakan.

Hakim-hakim 4 dibuka dengan satu situasi dimana bangsa Israel yang sudah meninggalkan Tuhan mengalami satu penindasan yang sangat dahsyat dari raja negeri Kanaan selama 20 tahun. Secara khusus penulis kitab ini menyebut nama panglima Sisera yang “menindas orang Israel dengan keras” (ayat 3). Kita baru mengetahui kejahatan apa yang dilakukan Sisera di pasal 5:30, “Bukankah mereka mendapat jarahan dan membagi-baginya, gadis seorang dua untuk setiap orang…” Sisera melakukan perkosaan kepada gadis-gadis Israel dengan keji. Entah sudah berapa banyak anak gadis yang ditangkap, diperkosa dan dijadikan bulan-bulanannya dan budak seks bagi tentara-tentaranya. Itulah Sisera. Tekanan dan opresi yang dia lakukan sangat bengis dan keji luar biasa. Ironisnya, tidak ada pemimpin pria yang muncul dari bangsa Israel pada waktu itu, yang ada adalah seorang wanita bernama Debora. Debora maju karena Tuhan memanggil dia untuk memimpin bangsa Israel melewati masa-masa kekelaman itu dengan prinsip firman Tuhan. Untuk panggilan itu dia berdiri step up, walaupun dia hanya seorang perempuan. Tidak sering di dalam Alkitab kita menemukan Tuhan memanggil perempuan untuk menjadi seorang leader. Perempuan dianggap sebagai kaum yang lemah, bagaimana bisa menjadi seorang pemimpin dan hakim? Tugas perempuan lebih banyak di dalam rumah, menjaga asap dapur mengepul, merawat dan memelihara keluarga, dsb. Tetapi saat itu ketika bangsa Israel kehilangan pemimpin laki-laki, tidak ada pria yang sanggup dan berani step up menghadapi Sisera, maka Debora yang dipakai oleh Tuhan. Tetapi Debora punya apa? Debora tidak punya senjata, Debora tidak punya pasukan, Debora tidak punya resources yang men-support dia. Tetapi dia mempunyai karisma kekuatan rohani dan kebenaran firman Tuhan, satu hidup yang percaya Tuhan pasti akan memelihara dan melepaskan mereka, itulah yang dimiliki olehnya.

Tahun lalu ada beberapa orang dinominasi untuk menerima hadiah Nobel Perdamaian, meskipun akhirnya hadiah Nobel jatuh kepada satu organisasi pelucutan senjata kimia, namun membaca perjuangan orang-orang yang dinominasi ini sungguh mengharukan. Salah satunya, Dr. Denis Mukwege, seorang dokter Kristen anak seorang pendeta di Congo bersama rekan-rekannya khusus melayani lebih dari 30.000 orang wanita korban perkosaan dan penyiksaan massal, mereparasi kerusakan internal fisik yang disebabkan oleh perkosaan itu. Satu bulan setelah Dr. Mukwege memberikan pidato dan kritikannya di PBB terhadap komunitas internasional yang lambat bertindak atas situasi yang terjadi di Congo, empat orang bersenjata menyerang rumahnya dan menculik anak-anak perempuannya. Dr. Mukwege lari ke Eropa, tetapi kemudian kembali ke Congo untuk melanjutkan pelayanannya terhadap korban perkosaan di sana. Kenapa dia kembali? Bukankah dia punya hak untuk melindungi keluarganya dan menyelamatkan nyawanya? Saya percaya dia kembali karena dia punya panggilan Tuhan untuk menolong orang yang sangat membutuhkan; dia punya bakat dan kemampuan untuk melakukannya. Cinta Tuhan dan kasih Tuhan membuatnya berani untuk kembali dan berjuang di sana, apapun resikonya.

Debora tidak punya apa-apa. Debora hanya punya Tuhan; Debora punya keberanian; Debora punya cinta kepada rakyat yang ditindas. Itulah sebabnya meskipun ancaman Sisera begitu jelas dan begitu real di depannya, Debora tidak takut. Tetapi saat itu Debora tidak punya tangan yang sanggup untuk berperang. Dia membutuhkan Barak, yang mempunyai 10.000 orang tentara untuk maju berperang melawan Sisera. Secara kondisi, Barak mampu, Barak sanggup, Barak punya resources. Yang Barak tidak punya adalah kerelaan hati. Pada waktu Debora memanggil Barak, Debora mengatakan, “Tuhan memanggil engkau, Tuhan beserta dengan engkau… majulah, dan Tuhan akan menyerahkan Sisera ke dalam tanganmu…” (ayat 7). Tetapi Barak mengeluarkan alasan dan excuses kepada Debora, “Jika engkau turut maju aku pun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju, aku pun tidak maju” (ayat 8). Di situ berarti Barak menyerahkan hak leadership-nya kepada seorang wanita.

John C. Maxwell menulis satu buku terbaru, “Sometimes You Win, Sometimes You Learn” dalam bab bicara mengenai tanggung jawab responsibility dia mengatakan, “…tanggung jawab itu bukanlah sesuatu yang diberi kepada kita oleh orang yang lebih tinggi daripada kita.” Kita sering begitu, bukan? Kita baru mengambil tanggung jawab itu karena baru diserahkan kepada kita. Waktu orang suruh, baru kita ambil tanggung jawab itu. Kita tidak mengerjakan karena kita tidak disuruh; kita tidak melakukan karena kita tidak ditugaskan. Responsibility bukan saja dimengerti seperti itu, sesuatu yang diberikan oleh orang yang lebih tinggi daripada kita. Responsibility adalah sesuatu yang engkau willing to do. Tidak perlu diminta, tidak perlu tunggu disuruh, tidak perlu ditugaskan. Responsibility adalah sesuatu yang kita bersedia untuk ambil dan lakukan.

Debora menjawab permintaan Barak, “Baik, aku turut! Hanya, engkau tidak akan mendapatkan kehormatan sebab Tuhan akan menyerahkannya kepada seorang perempuan…” (ayat 9a). Barak akhirnya maju ke medan perang, tetapi excuses yang dia katakan membuat dia kehilangan hormat dan mulia itu, walaupun di dalam peperangan itu dia berjuang, dia berusaha. Pada awalnya dia sanggup, dia mampu dan dia punya resources, tetapi akhirnya dia tidak mendapatkan kehormatan sebagai seorang pahlawan yang agung di dalam sejarah Israel.

Tahun ini Tuhan memanggil engkau dan saya melakukan tugas khusus bagiNya. Biar setiap kita berkata, “Tuhan, saya bersedia menerima tanggung jawab yang Engkau berikan kepadaku dengan sebaik-baiknya.” Saya percaya Tuhan akan memperlengkapi kita dengan segala hal yang kita perlukan, kesanggupan, kebisaan. Yang kita perlu adalah punyakah kita kerelaan?

Hakim-hakim 5:9, Debora bernyanyi, “Hatiku tertuju kepada panglima-panglima Israel, kepada mereka yang menawarkan dirinya dengan sukarela… Pujilah Tuhan!” Awalnya Barak tidak sukarela. ‘Kalau engkau pergi, aku baru pergi…’ Jadi siapa yang ‘in charge’? Bukankah dia adalah seorang panglima? Siapa di antara kita yang waktu rumah kemasukan garong, sembunyi di belakang ketiak isteri? Seperti itu kira-kira permintaan Barak kepada Debora. Namun ayat ini menjadi satu keindahan yang nyata, Barak yang tadinya enggan, Barak yang cari excuses, Barak yang tidak rela, akhirnya rela maju ke medan perang bagi Tuhan. Hanya sayangnya kehormatan dari kemenangan peperangan itu tidak diberikan Tuhan kepadanya, melainkan Tuhan serahkan kepada perempuan. Kecewakah Barak? Puji Tuhan, tidak. Maka di dalam pujian kemenangan itu bersama mereka bernyanyi, “Terpujilah panglima Israel yang menawarkan dirinya dengan sukarela.” Pujilah Tuhan karena semua yang ada pergi dengan sukarela. Hati itu yang menjadikan indah. Ada kemampuan, ada resources, ada kesempatan, ada kesanggupan belum cukup kalau tidak dilengkapi oleh hati yang rela mengerjakannya.

Mungkin kalau hitung di atas kertas, wajar Barak menjadi kecut dan tidak berani, karena Alkitab mencatat Sisera mempunyai 900 kereta besi selain pasukan yang gagah berani. Pakai bahasa sekarang itu adalah tank dan pasukan daratnya. Sedangkan Barak punya pasukan darat hanya sepuluh ribu orang saja, maka satu kereta melawan sepuluh orang, sebentar saja langsung kalah mereka. Willingness to take the responsibility di dalam pertolongan Tuhan, menghasilkan kemenangan di luar perhitungan manusia.

Hakim-hakim 4 bicara mengenai fakta situasi hidup yang real, penindasan, penjajahan, intimidasi, opresi, yang dialami dan diderita orang Israel dua puluh tahun lamanya. Ketika waktunya telah tiba untuk berperang melawan penindasan itu, Tuhan membukakan apa yang akan terjadi di depan dan semuanya benar terjadi seperti yang difirmankanNya. Pasukan Barak bertempur dengan pasukan Sisera di dekat sungai Kison dan di situ Tuhan mengacaukan tentara Sisera dan menunggang-balikkan semua kereta besinya sehingga seluruh pasukan Barak menaklukkan tentara Sisera (ayat 16). Dalam keadaan terpukul kalah dan semua tentaranya mati terbunuh, Sisera melarikan diri dengan berjalan kaki sampai ke kemah seorang perempuan bernama Yael, yang dikenal baik oleh Sisera (ayat 17). Karena terlalu lelah lari dari kejaran Barak, Sisera jatuh tertidur nyenyak di kemah Yael. Yael lalu mengambil patok kemah dan membunuh Sisera dengan patok itu di pelipisnya (ayat 21). Puji Tuhan yang adil, seorang yang dengan bengis memperlakukan perempuan akhirnya mati binasa di tangan perempuan. Tuhan memakai setiap cara dan kemungkinan untuk menggenapkan maksud dan rencanaNya bagaimana menjaga dan memelihara umatNya yang ditindas.

Dalam hidup kita sehari-hari kadang-kadang kita tidak lihat secara real dan nyata bagaimana tangan Tuhan berjalan di depan dengan tanganNya menuntun kita. Namun ketika kita menengok ke belakang kita akan takjub dan kagum bagaimana tangan Tuhan itu secara tersembunyi dengan aktif memimpin hidup orang-orang yang berharap dan bersandar kepadaNya, lewat jerih payah kita, lewat usaha kita, lewat keberanian dan kemampuan kita. Ketika segala pencapaian itu kita raih, kita tidak boleh lupa mengeluarkan pujian dan doxology meninggikan dan mengagungkan nama Tuhan yang telah memimpin kita sampai di situ.

Hakim-hakim 5 adalah satu pujian dan doxology yang keluar dari mulut Debora dan Barak, honour and glory be to God only. Memang Barak yang turun berperang, memang Barak yang berjuang, tetapi kemenangan itu diraih dan dicapainya oleh karena campur tangan dan pertolongan Tuhan semata-mata. Debora dan Barak menyelesaikan tugas yang diberikan kepada mereka di dalam peperangan itu dengan mengembalikan segala hormat dan puji kepada Tuhan.

Hakim-hakim 6:11-15 Tuhan memanggil dan mengutus Gideon untuk berperang melawan orang Midian. Gideon, yang seperti Barak awalnya tidak mau dan tidak rela, Gideon juga mengajukan berbagai excuses waktu Tuhan memanggil dia berperang. Namun excuses yang disebutkan Gideon memang suatu fakta realita, dia memang tidak mampu menjadi pemimpin. Kaumnya paling kecil daripada suku Manasye dan dia sendiri seorang anak yang paling muda di rumahnya (ayat 15). Wajar kalau muncul keraguan dan ketakutan, mampukah, sanggupkah, bisakah, sebab aku masih muda dan belum ada pengalaman. Selain itu Gideon menganggap kalau selama tujuh tahun Tuhan membiarkan orang Midian merampok dan menjarah orang Israel sampai begitu melarat, maka tidak ada harapan mereka bahwa Tuhan menyertai bangsanya. “…jika Tuhan menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? Tuhan sudah membuang kami…” (ayat 13). Itulah alasan Gideon. Maka Tuhan perlu memberikan kekuatan kepada anak muda ini dengan janji penyertaanNya.

Mungkin itu yang engkau alami waktu Tuhan memanggilmu melakukan satu tugas bagiNya. Engkau masih muda, masih belum ada pengalaman, masih belum mampu menerima tanggung jawab itu. Tetapi kita percaya dan kita melihat Tuhan bisa bekerja melebihi keterbatasan dan kelemahan kita. Tahun ini kalau Tuhan memberimu satu tanggung jawab yang baru atau tanggung jawab yang lebih besar daripada tahun yang lalu, jangan cepat-cepat menolak dan mencari excuses dengan melihat diri tidak mampu dan tidak sanggup. Mari kita juga belajar bersandar kepada Tuhan yang memampukan kita. Pada waktu situasi kita susah dan sulit, jangan pernah seperti Gideon bilang Tuhan itu sudah membuang kita. Selalu lihat di dalam segala keadaan, baik waktu lancar maupun susah, Tuhan sepenuhnya mengontrol dan menjadikannya kebaikan bagi semua orang yang mengasihi Dia. Kita tidak boleh tunggu Tuhan memperbaiki situasi kita baru kemudian kita mau jalan. Tuhan justru mau melalui kerelaan kita Tuhan merubah situasi itu. Troubles and problem tidak dengan sendirinya akan solved dari hidup kita. Jangan juga kita harapkan orang lain yang menyelesaikan kesulitan dan problem hidup kita. Dan pula jangan minta Tuhan semuanya Tuhan bereskan baru kita mau melangkah menjalankan panggilan Tuhan. Justru Tuhan panggil kita agar kita berjalan di dalamnya dan melaluinya Tuhan akan pakai kita menjadi alat untuk menyelesaikan setiap kesulitan dan problema yang kita alami. Waktu kita sampai kepada titik itu biar hati kita kembali courageous menjalaninya dan kemuliaan bagi Tuhan semata-mata.

Engkau mau atau tidak? Keputusan yang harus dia ambil sulit luar biasa. Maka dengan sabar Tuhan menanggapi permintaan Gideon untuk memberinya assurance jaminan bahwa benar Tuhan menyertai dia. Ini adalah kisah yang luar biasa bagaimana Tuhan mengubah seorang yang ragu, takut, minder, dan tidak punya keyakinan diri dengan segala kelemahan itu Tuhan memperlengkapinya menjadi seorang pahlawan yang gagah perkasa, yang berani dan confident, fully in charge maju ke medan perang melawan orang Midian.

Hakim-hakim 7 mencatat persiapan dan peperangan yang dijalani oleh Gideon dan pasukannya. Tuhan berkata kepada Gideon, “Terlalu banyak pasukan yang ada padamu, lebih dari yang Aku kehendaki…”. Tuhan tidak ingin Gideon terlalu bersandar kepada kekuatan diri dan banyaknya pasukan tentaranya. Jangan sampai karena apa yang ada padanya Gideon dan orang Israel akan memegahkan diri dan berkata, tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku (ayat 2). Orang yang minder, yang merasa tidak mampu dan kurang resources kita pikir cara untuk mengembalikan confident-nya adalah dengan cara memberikan lebih daripada apa yang dia butuhkan, bukan? Tuhan tidak demikian. Tuhan punya cara yang berbeda membentuk hati Gideon. Tuhan tidak mau kalau akhirnya tentara yang banyak itu membawa Gideon tidak lagi bersandar kepada Tuhan dan meninggikan diri dan kemampuannya. Maka Tuhan menyuruh Gideon mengatakan kepada tentaranya, “Siapa yang takut, boleh pulang!” Siapa yang tidak takut? Alkitab mencatat 22.000 orang dari tentara Gideon langsung pulang ke tempat masing-masing. Itu pemisahan yang penting. Kita melihat Tuhan beserta dan memelihara setiap anak-anak Tuhan membutuhkan hati yang bersandar dan percaya kepada Tuhan. Maka biar hati kita siap melakukan apa yang Ia berikan, jalan bersama-sama, lewati proses itu, miliki keberanian yang bersandar kepada Tuhan dan selalu tidak pernah mengabaikan dan melupakan segala hormat dan puji kembali kepada Tuhan, mencintai dan menghormati Tuhan di dalam hidup kita.(kz)