01. Maukah Engkau Sembuh?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Seri “Orang-orang yang Berjumpa dengan Kristus” (1)

Nats: Yohanes 5:1-15

 

Jika kita melihat kumpulan orang berbaris dalam antrian panjang dengan tangan memegang mangkok kosong, lalu sdr bertanya kepada salah satu dari mereka, “Maukah engkau makan?” tentu akan dianggap sebagai pertanyaan yang konyol dan agak “insulted” kecuali kalau sambil bertanya tangan kita juga menyodorkan makanan kepadanya. Atau kita melihat seseorang di pinggir jalan berada di kolong mobilnya yang mogok sedang mengutak-atik mesin, lalu kita bertanya kepadanya, “Rusakkah mobilmu?” tentu dia akan mendelikkan matanya mendengar pertanyaan seperti itu, kecuali kita ikut di sisinya sambil menawarkan jasa kita yang kebetulan juga seorang mekanik untuk menolong dia.

Yohanes mencatat kolam Betesda adalah tempat bagi kumpulan orang sakit berbaring begitu banyak di situ.Suatu hari Yesus datang ke tempat itu lalu bertanya kepada salah satu dari mereka, “Maukah engkau sembuh?”Jelas orang itu ada berbaring di tepi kolam Betesda dengan satu tujuan dan hanya demi satu tujuan itu yaitu karena dia mau sembuh dari sakitnya. Tidak ada lagi alasan yang lain. Namun sebelum Yesus menyembuhkan orang itu kenapa Yesus memberikan pertanyaan ini baginya, maukah engkau sungguh-sungguh disembuhkan?

Pertanyaan ini adalah satu pertanyaan yang sungguh luar biasa.Ini bukan pertanyaan basa-basi; ini bukan pertanyaan yang konyol; ini bukan pertanyaan yang menghina.Pertanyaan ini adalah satu pertanyaan yang dalam karena di balik pertanyaan ini Yesus membongkar motivasi seseorang yang ingin mendapatkan sesuatu.Pertanyaan ini adalah satu pertanyaan yang penting karena pertanyaan ini membawa kita memikirkan ketika satu perubahan terjadi di dalam hidup kita, adakah kita menyadari kita tidak mungkin lagi kembali kepada kondisi hidup kita sebelumnya.Siapkah kita menjalani perubahan itu?Banyak orang tidak gampang dan tidak mudah menerima perubahan itu terjadi di dalam hidupnya.Banyak orang mau mendapat kesembuhan dari sakitnya, tetapi mungkin tidak mau mengalami perubahan.Banyak orang mau mendapat berkat Tuhan, tetapi mungkin tidak mau Tuhan menjadi Tuhan di dalam hidupnya.

Pertanyaan ini penting: apakah engkau sungguh-sungguh mau disembuhkan? Apakah engkau sungguh-sungguh mau diubahkan?Apakah engkau mau beriman dan terima Tuhan Yesus ketika itu adalah keputusan yang bisa berefek dahsyat di dalam hidupmu?Apakah engkau mau menjadi anak Tuhan meskipun ada konsekuensi yang besar yang harus engkau hadapi?

“Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya” (Yohanes 5:4). Perlu kita ketahui di dalam salinan manuskrip Injil Yohanes yang paling tua tidak ada ayat 4 ini sehingga hampir semua versi Alkitab, termasuk NIV dan ESV tidak memasukkan ayat  ini dan menganggap teks ini sebagai tambahan penjelasan yang diberikan oleh penyalin. Bagi saya penambahan ini ada dengan tujuan ingin memberikan tambahan informasi dan penjelasan mengapa begitu banyak orang-orang sakit berkumpul di dekat kolam Betesda itu dan tidak berarti Tuhan menyetujui konsep itu.

Entah sejak kapan beredar tradisi tahayul di kalanganorang Yahudibahwa keberadaan kolam Betesta ini adalah tempat terjadi mujizat kesembuhan ketika air kolam itu bergoncang dan mereka menganggap ada malaikat Tuhan menggoncangkan air itu dan siapa pun yang pertama kali turun ke kolam itu saat airnya berguncang, akan mengalami kesembuhan.

Di dunia, kaya-miskin, tua-muda, besar-kecil, siapa pun tidak akan bebas dan lepas dari penyakit dan kesulitan. Dan waktu hal itu datang menimpa, semua orang ingin buru-buru lepas darinya. Maka bukan saja dokter yang pandai dicari; bukan saja obat yang mujarab dicari; benda apapun atau tempat apapun, orang dari agama apapun, akan buru-buru mendatangi jikalau hal itu menjanjikan kesembuhan dan kelancaran. Dari shrine yang ada di Lourdes sampai ke Salt Lake city, dari Yerusalem sampai ke Rio de Janeiro, begitu orang mendengar ada patung ini yang bisa mengeluarkan darah, langsung orang berbondong-bondong datang ke situ. Agen-agen perjalanan segera mempersiapkan tour dan akomodasi karena dijamin akan laku keras. Dari gunung Kawi sampai gunung Kemukus sampai ke kuil Sam Po Kong, dari mana saja, orang begitu mudah menjadikan sesuatu menjadi tahayul semata-mata demi kesembuhannya.Itulah penyakit yang paling berbahaya dari hidup manusia.Betapa berbahaya jikalau bagaimana cara Tuhan bekerja dan di tempat dimana Tuhan bekerja akhirnya membuat kita melupakan Siapa yang bekerja di balik dari semua itu dan kita menjadikan tempat atau orang itu menjadi pelakunya.

Saya sedikit uneasy setiap kali mendengar orang bersaksi di youtube, “Puji Tuhan, saya disembuhkan di gereja ini, karena gereja ini penuh dengan mujizat…” Dan saya tidak mau kalau sdr mengatakan, “Puji Tuhan, saya disembuhkan karena doa Pendeta Effendi.” Kalimat seperti itu tidak boleh keluar dari mulut kita.Pada waktu orang berkata seperti itu kepada saya, saya harus mengoreksinya dan berkata, “Maaf, bukan doaku yang menyembuhkan engkau.”

Namun bukan saja kita bisa terjatuh oleh sikap seperti itu oleh karena mujizat, tetapi bisa terjatuh juga oleh karena dari kekaguman bergeser menjadi penyembahan kepada ajaran dan pemimpin gereja tertentu.Ada orang berkata, “Kalau tidak karena pengajaran pendeta ini, kalau saya tidak di gereja ini, saya akan kehilangan keselamatan.”Berbahaya sekali kalau sampai orang mengeluarkan kalimat itu, karena itu berarti dia sudah terjatuh kepada superstitious spiritual yang tetap melekat di dalam dirinya meskipun dia sudah menjadi orang Kristen. Kita harus berhati-hati, kita perlu peka dan mawas diri akan hal itu, jangan sampai kita terperosok kepada sikap seperti itu, satu sikap superstitious terhadap tempat tertentu, gereja tertentu, pengajaran orang tertentu, pendeta tertentu dan bukan kepada Allah.

Bangsa Yahudi juga tidak lepas dari kecenderungan tahayul seperti ini.Tabut dibuat sebagai lambang kehadiran Tuhan Allah, dimana di dalamnya ditaruh 2 loh batu bertulis 10 hukum, juga ada tongkat Harun yang berbunga dan satu keranjang berisi manna di dalam tabut itu sebagai ingatan sejarah yang tidak boleh mereka lupa, bagaimana Tuhan bekerja menyatakan kuasaNya di tengah-tengah mereka. Tabut itu adalah saksi hidup yang mengingatkan akan siapa Tuhan, tetapi kuasaNya bukan ada di situ. Ketika orang Israel hendak berperang melawan Filistin, mereka menginginkan Tuhan hadir berserta dengan mereka memberi kemenangan, dibawalah tabut itu bersama ke medan perang. Mereka mengira kalau tabut itu ada bersama mereka, otomatis Tuhan juga ada bersama mereka.Namun Alkitab mencatat Tuhan tidak hadir bersama mereka di dalam peperangan itu.

Entah sudah sejak kapan kolam Betesda sudah menjadi tempat tahayul, namun paling tidak orang lumpuh yang bertemu Yesus dalam Yohanes 5 ini dicatat sudah ada di situ selama 38 tahun lamanya. Barangkali sudah jauh-jauh hari sebelumnya itu tempat orang-orang sakit tinggal di situ, yang buta, yang lumpuh, yang timpang, siapa saja yang sakit apa saja bisa datang. Maka bayangkan banyak, banyak sekali orang sakit ada di situ menanti-nantikan kapankah air kolam itu bergoncang.Kapankah air itu bergoncang?Pernahkah air itu bergoncang? Ini dua pertanyaan yang patut kita munculkan, karena tidak jelas apakah selama 38 tahun orang lumpuh ini berada di sana, adakah air kolam Betesda bergoncang. Kalaupun pernah bergoncang, yang buta mana bisa melihat?Yang lumpuh mana keburu untuk lompat ke dalamnya? Akhirnya yang bisa lompat tinggal yang sakit kepala, sakit pinggang, sakit kulit atau yang sakit gigi saja, karena merekalah yang keburu lari dan keburu lompat ke kolam itu lebih cepat daripada yang lain.

Apakah engkau sungguh-sungguh ingin sembuh?Orang lumpuh itu sudah tinggal di kolam Betesda selama 38 tahun lamanya.Kenapa?Karena memang dia mau sembuh.Mungkin saja ada satu dua kali dalam setahun dia melihat orang sakit melompat ke kolam itu.Tetapi apakah dia melihat ada orang yang sembuh?Belum tentu.Lalu, bagaimana sesungguhnya kondisi kelumpuhan orang itu? Kalau dari segi medis, orang yang lumpuh total kecil kemungkinan bisa survive tinggal dan berbaring di situ selama 38 tahun, karena pasti punggungnya sudah luka busuk dan komplikasi infeksi. Alkitab mencatat ada tilam kasur tempat dia berbaring, supaya dia tidak perlu bolak-balik pulang ke rumahnya, tetapi tidak berarti dia terus saja tidur tergeletak 38 tahun di situ.Saya percaya dia masih bisa bergerak dan minimal merawat dirinya sendiri semampunya.

Mari kita perhatikan beberapa aspek ini.

Pertama, 38 tahun di situ ingin menantikan kesembuhan, hidupnya harus selalu hanya mengingat karena aku lumpuh, aku cacat, akhirnya apa yang dijalani? Tiga puluh delapan tahun hidupnya terobsesi dan hanya fokus kepada satu hal saja: sembuh. Tetapi mungkin kita bisa memaklumi persoalan dia, toh tidak ada lagi hal yang bisa dia harapkan dalam hidup ini, bukan?Kita mungkin bisa bersimpati kepada dia untuk obsesi itu.Tetapi karena obsesi ingin sembuh maka tempat itu menjadi sandarannya satu-satunya, tempat dia menaruh semua pengharapan hidupnya.Banyak sekali orang mempunyai sikap seperti itu.

Kedua, kalau selama 38 tahun dia sudah ada di situ bersama entah berapa banyak orang-orang lain di sekitarnya, berarti dari sebelum-sebelumnya mungkin sudah seratus tahun lamanya kolam Betesda sudah menjadi tempat tahayul seperti itu. Maka bisa dibayangkan di tempat itu sudah terbentuk satu sistem.Mari kita coba pikirkan, selama 38 tahun bagaimana orang lumpuh ini mendapat makanan setiap hari?Siapa yang memberi buat dia?Bagaimana dengan yang lain-lain?Karena tempat itu sudah menjadi tempat tahayul, maka orang yang datang ke tempat itu bisa bermacam-macam.Ada orang-orang oportunistik yang bisa memanfaatkan situasi, ada orang-orang yang ingin disembuhkan, maka berkembanglah sistem ini. Kalau saya memberi sedekah kepada orang yang sakit, Tuhan pasti akan memberkati hidupku. Kalau saya datang berdoa di tempat ini, saya akan mendapat keturunan, saya akan diberkati, sembuh penyakitku. Kalau saya berbuat baik kepada orang, memperhatikan orang yang ada di situ, Tuhan akan membalaskan dengan berkat dan anugerahnya bagiku. Tiga puluh delapan tahun orang lumpuh ini tinggal di situ, selain menantikan kesembuhan dari sakitnya, hidupnya sudah dependent kepada generosity orang yang datang, menunggu orang memberi sesuatu kepadanya.Hidup sudah terlalu biasa selama 38 tahun tetap bisa berjalan dengan baik seperti itu, dia practically tidak kekurangan apa-apa, kecuali cuma satu hal saja yang kurang yaitu dia lumpuh.

Maka betapa tidak gampang setelah orang itu disembuhkan, dia berubah dari orang invalid menjadi orang sehat.Dia tidak bisa lagi menjalani hidup yang seperti dulu sehari-hari menantikan sedekah karena kalau dia sembuh dan sehat, dia harus bekerja untuk memperoleh makanannya.Tiga puluh delapan tahun hidup semata-mata mendapatkan makan dari pemberian tangan orang, hidup sudah nyaman bergantung kepada orang lain, dan satu hal yang pasti kalau dia sembuh dia tidak bisa jadi peminta-minta lagi. Orang akan melihat dia sudah sembuh, dia sudah sehat, dia harus bekerja dengan memeras keringatnya sendiri. Maka pada waktu itu perubahan terjadi, 38 tahun kebiasaan lama yang sudah latent tidaklah mudah untuk disisihkan dan ditanggalkan.

Hidupnya membutuhkan satu transformasi total.Itu artinya pertanyaan Yesus. Kalau engkau sungguh-sungguh mau sembuh maka engkau tidak lagi menjalani hidupmu yang lama dan lifestyle hidupmu akan berubah total. Maukah?Alkitab berkata, di dalam Kristus engkau adalah ciptaan baru.Yang lama sudah berlalu, jangan hidup seperti yang dulu lagi.

Jawab orang lumpuh itu, “…tidak ada orang yang menolong aku.”Dari jawabannya ini memberi indikasi dia hanya concern kepada satu hal yaitu tidak punya resources atau orang yang membantu dia. Mungkin di sekitarnya ada orang-orang yang sakit yang dari keluarga berada, punya uang untuk menyewa pembantu untuk menolongnya tunggu kapan air kolam bergoncang.Pertanyaan Tuhan Yesus kepada orang ini seharusnya membuat dia sadar dia tidak mungkin bisa disembuhkan oleh apapun, oleh siapapun, dan dia harus sadar tidak mungkin dia bisa sembuh oleh tempat tahayul itu.

Dia hanya bisa sembuh kalau dia tahu siapa sesungguhnya yang menyembuhkan dia. Dia harus mendengarkan pertanyaan Yesus baik-baik dan betul-betul menyimaknya dan mendapatkan jawaban Tuhan.Dia hanya bisa berseru, “Tuhan, aku mau disembuhkan! Tolonglah aku! Sembuhkanlah aku!” Tetapi dia sama sekali tidak mengatakan hal itu. Pikirannya hanya fokus mempersalahkan situasi dan mengasihani diri dan seperti pungguk menantikan bulan, mengharapkan yang tidak akan pernah terjadi dengan pikiran, kalau saja ada orang yang menolong aku. Pertanyaan Yesus adalah pertanyaan yang seharusnya membuat dia berpikir dalam-dalam. Engkau tidak akan bisa lepas dari situasimu dengan cara seperti itu. Engkau perlu mencari Tuhan yang memberikan kesembuhan itu kepadamu.

Dan ada hal-hal sangat berbeda dari orang ini dibandingkan dengan orang-orang sakit lainnya yang disembuhkan Yesus, orang sakit itu berseru memohon kesembuhan, dan setelah mengalami kesembuhan dia memuliakan Allah, berterima kasih dan kemudian mengikut Yesus.Semua aspek ini tidak ada pada diri orang lumpuh ini.Waktu Yesus berkata, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah,” Alkitab mencatat, “…ia mengangkat tilamnya dan berjalan.”Begitu saja.Tidak ada respons berterima kasih, tidak ada respons bersyukur, tidak ada respons dia memuliakan Allah.

Terlebih lagi, orang-orang Farisi yang kebangetan itu menegur dia kenapa pada hari Sabat dia membawa tilamnya, tidak melihat orang itu baru saja mengalami mujizat kesembuhan.Orang ini menjawab, “Aku disuruh mengangkat tilam ini oleh orang yang menyembuhkan aku.”Siapa orang itu?Tidak tahu.Tidak kenal.

Ketiga, yang paling penting melalui kesembuhan itu engkau mau apa? Itulah makna di balik pertanyaan ini, karena ada hal yang lebih penting daripada kesembuhan itu sendiri.Maka Yesus saat menjumpai orang ini memperingatkan dia, “Engkau telah sembuh, jangan berbuat dosa lagi supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk” (Yohanes 5:14).Yesus mengingatkan dia, jangan sampai hidupnya nanti lebih buruk daripada sebelumnya.

Saat kita berseru, “Tuhan, saya mau sembuh dari sakit ini,” lalu setelah Tuhan sembuhkan, bagaimana?“Tuhan, saya mau pekerjaan ini,” lalu setelah Tuhan beri, bagaimana?Haruskah kita berhenti sampai di situ saja? Ini point yang penting yang perlu kita pikir dalam-dalam. Maka waktu kita berdoa, “Tuhan, saya mau pekerjaan ini,” setelah Tuhan beri, coba dengarkan kalimat Tuhan Yesus ini, sungguhkah engkau mau hal itu?Waktu kita berdoa, “Tuhan, aku mau punya rumah,” kita juga harus letakkan aspek ini.Waktu kita berdoa, “Tuhan, aku mau mempunyai anak yang sudah begitu lama kita rindukan,”waktu kita berlutut berdoa, “Tuhan, beri saya pasangan hidup,” perlu renungkan pertanyaan ini, do you really want that? Karena kita tidak boleh berhenti sampai kepada apa yang Tuhan berikan. Setelah engkau mendapatkannya, apa yang pemberian itu kerjakan dan lakukan kepadamu? Orang ini selama 38 tahun terobsesi hanya ingin sembuh tetapi dia tidak melihat kesembuhan itu akan melakukan apa bagi hidupnya selanjutnya. Sama halnya terjadi kepada kita.Jika kita tidak sembuh dan kita terobsesi hanya mau sembuh dan terus saja mau sembuh, kita bisa waste time 38 tahun hanya dihabiskan untuk soal itu saja, bukan?Padahal hidup ini bukan hanya soal lumpuh tidak lumpuh, sembuh tidak sembuh saja.Hidup itu lebih daripada hal itu. Ini point yang paling penting yang diajarkan dari bagian ini.

Sayang sekali banyak orang tidak menyadari hal ini sehingga kita menemukan banyak orang yang mengalami situasi yang sama, kelumpuhan itu bukan saja melumpuhkan tubuhnya tetapi akhirnya juga melumpuhkan hasrat hidupnya, melumpuhkan keinginan dan cita-citanya, melumpuhkan keluarganya. Waktunya hanya dihabiskan untuk meratapi keadaannya dan terus hanya berpikir bagaimana untuk sembuh, tanpa berpikir bahwa di dalam sakit kita pun Tuhan bisa memberi kita anugerah untuk menjalani hidup dan menjadi berkat.Ada orang yang lumpuh selama 40 tahun hidupnya seperti Joni Eareckson Tada, justru begitu indah menjalani hidupnya.Sembuh tidak sembuh bukan lagi menjadi persoalan besar baginya, tetapi bagaimana bisa mempunyai hidup yang lebih berkualitas dan lebih menjadi berkat besar.

Kita berdoa supaya anak kita berhasil dalam studinya, tetapi selanjutnya apa? Kita berdoa supaya anak kita yang sudah memberontak kembali kepada kita, tetapi selanjutnya apa? Kita berdoa supaya dia sukses dalam hidup, masuk universitas besar, tetapi selanjutnya apa yang kita mau dari situ? Banyak hal kita tahu orang yang terobsesi mengharapkan sesuatu tetapi justru akhirnya kecewa setelah mendapatkannya, menyesal karena tahu lebih baik hal itu tidak pernah ada, seperti kisah “tangan Midas.”

Biar kiranya hati kita digugah karena Kristus Tuhan kita bukanlah Tuhan yang tidak sanggup untuk merubah hidup kita, memberikan dan menjawab segala permohonan doa kita, memberikan apa yang kita minta. Yesus sanggup menyembuhkan, Yesus sanggup menjadikan yang hilang menjadi ada, menyembuhkan yang sakit, memberikan apa yang kita tidak miliki.Tetapi bagaimana kita berespons dengan benar terhadap setiap tugas tanggung jawab yang kita jalani dengan hati yang melimpah dengan syukur terhadap semua yang kita terima dari Tuhan semata-mata.(kz)