04. Jesus, The Most Beautiful Person Ever Lived

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Seri “Orang-orang yang Berjumpa dengan Kristus (4)

Nats: Yohanes 7:45 – 8:11

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika hari ini saya berjumpa muka dengan muka berdiri di hadapan pribadi bernama Yesus itu? Bagaimana kira-kira reaksi dan keadaan hati saya saat menyaksikan Dia hadir di tengah-tengah kita? Yesus adalah sosok pribadi yang luar biasa indah. Siapa yang seperti Dia, yang mau bercakap-cakap dengan seorang perempuan Samaria? Tidak ada satu pria Yahudi yang merasa diri terhormat mau berbicara dengan perempuan seperti itu, kecuali Tuhan Yesus Kristus. Jikalau wanita itu hadir di tengah-tengah kita saat ini, adakah kita juga menjadi orang yang mau bercakap-cakap dan berbicara dengan orang-orang seperti ini? Orang yang buta sejak lahir, orang yang cacat dan timpang, orang yang kusta, pada waktu mereka berjumpa dengan Tuhan Yesus Kristus, mereka bukan saja mengalami kesembuhan, tetapi mereka mengenal Dia lebih dalam. Dan tidak ada orang di dalam catatan Alkitab kita saat dia berjumpa dengan Yesus Kristus yang tidak mengalami perubahan dan mendapatkan pembaharuan total dalam hidupnya.

Dalam bagian ini kita berjumpa dengan seorang bernama Nikodemus. Yohanes mencatat dia pernah menjumpai Yesus pada satu malam untuk bercakap-cakap denganNya (Yohanes 7:50, 3:1). Perjumpaan di malam hari itu membukakan mata Nikodemus melihat Yesus adalah satu sosok pribadi yang luar biasa. Yesus bukan sekedar seorang rabi yang pandai mengajar, bukan seorang ahli Taurat yang sama dengan yang lainnya. Walaupun di tengah kesulitan hatinya untuk secara terbuka mengekspresikan menyatakan imannya kepada Yesus Kristus dan keberanian untuk secara tegas memperlihatkan posisinya sebagai pengikut Yesus namun pada akhirnya Nikodemus adalah salah satu dari sedikit orang yang ada di bukit Golgota menurunkan mayat Yesus dari kayu salib (Yohanes 19:39).

Yesus itu adalah sosok pribadi yang sungguh indah luar biasa. Pada waktu kita berjumpa dengan Dia, kita akan dibuatNya menjadi lebih manusiawi; pada waktu kita berjumpa dengan Dia, di situlah kita tahu beagaimana seharusnya kita menjadi seorang manusia. Jesus is the most beautiful human being who ever lived in this world. Dan tidak ada satu orang pada waktu berjumpa dengan Kristus bisa mencari alasan untuk membenciNya. Di dalam catatan Alkitab hanya ada dua jenis orang saja yang membenci Yesus. Orang yang pertama adalah orang yang munafik. Orang yang kedua adalah orang yang hatinya betul-betul jahat. Pontius Pilatus sekalipun yang punya motif dan punya kuasa untuk membunuhNya, saat dia berjumpa dengan Kristus, bercakap-cakap dengan Dia, melihat wajahNya, mendengar perkataan dan cara berbicaraNya, melihat attitude dan karakterNya, Pilatus tidak bisa mencari alasan untuk membenci Tuhan Yesus. Herodes sekalipun yang mengolok-olok Tuhan Yesus, pada waktu berbicara dengan Dia dari mengolok-olok dan bertanya sana-sini, dia tidak bisa menemukan alasan untuk membenci Pribadi itu (Lukas 23:8). Kenapa? Karena Yesus Kristus adalah sosok pribadi yang paling indah dan paling agung yang pernah mereka jumpai.

Prajurit-prajurit Sanhedrin disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi untuk menangkap Yesus. Namun pada waktu mereka mendekatiNya, melihat dan mendengar perkataanNya, mereka kembali kepada pemimpin-pemimpin agama itu. Mereka bertanya, “Kenapa kamu tidak membawaNya?” Keluarlah kalimat yang indah ini dari mulut prajurit-prajurit itu, “No one ever spoke the way this Man does,” belum pernah ada orang yang berbicara seperti Orang ini. Puji Tuhan! Luar biasa pernyataan dari prajurit-prajurit ini. Betapa hatiku tersentuh ada orang-orang yang seperti mereka dengan jujur mengatakan kekaguman mereka terhadap keagungan pribadi Yesus Kristus yang mereka lihat. Mereka terpikat dengan kata-kata hikmat yang penuh kuasa dan anugerah, yang Yesus nyatakan dengan tegas, jelas dan indah dalam pengajaranNya. Meskipun mereka datang kepada Yesus karena ada perintah untuk menangkap Dia, tidak ada alasan bagi mereka untuk membenci Yesus. Yang muncul justru adalah hati yang kagum dan terpesona dengan keindahan karakter Yesus yang belum pernah mereka lihat ada pada diri siapapun. Maka benarlah hanya ada dua macam orang yang membenci Yesus, yaitu orang yang munafik dan orang yang benar-benar jahat, yang betul-betul ‘pure evil.’ Selebih daripada itu tidak ada orang yang sanggup bisa mencari alasan untuk membenci Tuhan kita Yesus Kristus.

Pemimpin-pemimpin agama ini jelas adalah orang-orang munafik dan betul-betul berhati jahat. Itulah sebabnya mereka menyatakan reaksi marah luar biasa. Mengapa mereka begitu membenci Yesus? Karena meluap-luap kebencian dan iri hati mereka melihat ada daya tarik magnet yang sangat kuat dari pribadi Yesus Kristus yang membuat orang banyak tertarik kepadaNya. Para pemimpin agama ini sekuat tenaga dan upaya untuk mempunyai daya tarik seperti ini, yang mereka coba dengan memakai jubah agama, dengan berbagai usaha rohani untuk menarik orang kepada diri mereka. Tetapi daya tarik magnet seperti itu tidak ada pada mereka. Mengapa orang-orang ini begitu membenci Yesus? Sebab Ia menjadi cermin yang membuka segala topeng kemunafikan, segala kebobrokan dan kebusukan hati mereka. Meskipun mereka berusaha sekuat tenaga menjadi orang yang dilihat saleh dan taat kepada hukum agama, semata-mata supaya orang mau mengikut mereka, usaha itu sia-sia. Pemimpin-pemimpin agama ini adalah orang-orang munafik yang hanya mementingkan diri sendiri dan melayani keinginan dan ambisinya sendiri. Mereka adalah orang-orang yang lapar akan kuasa dan kekayaan; mereka haus pujian dan tepukan tangan orang.

Yohanes 7:47-48 memperlihatkan reaksi mereka terhadap pernyataan prajurit-prajurit itu, “Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin yang percaya kepadaNya? Atau seorang di antara orang Farisi?” Dengan arogan mereka menghina perkataan prajurit-prajurit itu, seolah-olah tidak sepatutnya orang seperti mereka bisa ditipu oleh Yesus, seolah-olah mereka orang yang tidak memakai otaknya untuk berpikir dengan sehat dan menimbang dengan benar. Tidak seperti mereka, orang Farisi yang adalah kelompok elite, yang secara spiritual dan akademis tidak gampang bisa disesatkan oleh Yesus.

Tidak berhenti sampai di situ, lalu mereka lanjutkan dengan kalimat ini, “Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!” (Yohanes 7:49). Betapa luar biasa kejam dan cruel mereka mengutuki jemaat sendiri, menghina mereka sebagai orang ignorant yang tidak mengenal hukum Taurat. Betapa tega hati dan betapa kontras jika dibandingkan dengan penulis kitab Taurat mereka yang bernama Musa. Pada waktu bangsa Israel memberontak kepada Tuhan dan Tuhan berkehendak membinasakan mereka, Musa berlutut di hadapan Tuhan dan memohon Tuhan tidak membinasakan mereka. “Tuhan, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu, dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kau tulis…” (Keluaran 32:32). Musa rela sekalipun namanya tidak ditulis dalam kitab kehidupan kalau dengan itu dia bisa menanggungkan hukuman Tuhan atas kesalahan dari umat Israel.

Setelah perdebatan sengit itu, Yohanes mencatat satu fakta realita yang sangat ironis, “Lalu mereka pulang masing-masing ke rumahnya, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun” (7:53-8:1). Ada penekanan penting dalam bagian ini: mereka pulang masing-masing ke rumahnya. Malam telah tiba, tentu mereka tidak bisa melanjutkan perdebatan dan harus selesai sampai di situ. Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. Kenapa dua hal ini dituliskan dalam satu kalimat seperti ini?

Yesus pergi ke bukit Zaitun, besar kemungkinan karena situasi panas seperti itu tidak ada seorang pun yang mau berurusan dengan Dia dan membuka rumahnya untuk Yesus menginap. Yesus pernah berkata, “Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya…” (Matius 8:20). Itu bukan permainan kata atau ungkapan yang bersajak indah. Itu adalah fakta realita yang ada. Malam hari itu ketika para pemimpin agama dan orang-orang Farisi pulang ke rumah mereka masing-masing, Yesus pergi ke bukit Zaitun, membaringkan diriNya beralas tanah beratap langit malam, di antara teduhan pohon-pohon zaitun yang ada di sekitarNya. Betapa kontras keadaanNya dengan mereka. Namun kondisi dan keadaan yang seperti itu tidak membuat Tuhan kita self-pity, kasihan terhadap diri sendiri, dan tidak membuat Dia menjadi pengemis, tetapi membuat Dia menjadi satu sosok pribadi yang begitu indah. Ia adalah Tuhan pencipta dan pemilik segala sesuatu di alam semesta ini, namun Dia rela menjalani hidup di dunia penuh dengan kekurangan. Namun dari kekuranganNya itulah Ia dengan murah hati memberi kelimpahan hidup kepada orang yang berjumpa denganNya. Dari kekuranganNya akan hal materi, Ia mengalirkan cinta yang besar bagi orang-orang di dalam pelayananNya.

Pagi-pagi benar Yesus pergi ke Bait Allah, duduk mengajar di situ dan orang-orang datang berbondong-bondong untuk mendengarkan Dia (Yohanes 8:2). Meskipun pemimpin agama dan orang Farisi terang-terangan menghina dan mengutuk mereka, orang banyak ini tetap datang kepada Yesus. Mungkin perdebatan soal hukum Taurat, orang Farisi dan Ahli Taurat tidak bisa menang, sudah. Maka mereka datang kepada Yesus dengan pendekatan lain, dengan membawa satu kasus, membawa seorang wanita yang baru saja tertangkap basah kedapatan berjinah. Dosa berjinah buat mereka sudah tentu adalah dosa yang sangat-sangat paling rendah daripada dosa yang lain. Ini adalah kasus yang paling hina dalam urusan moralitas pada jaman itu. Bukan saja dia ketangkap basah sedang berjinah, tetapi mungkin saja dia seorang wanita pelacur, dan sekarang ini mengalami diseret dan dipertontonkan di hadapan umum, dibawa ke hadapan Yesus, dipakai untuk menjadi alat untuk menjebak Yesus dan mencari kesalahan padaNya (Yohanes 8:6).

Kita mungkin langsung berpikir, kenapa hanya wanita ini yang ditangkap dan dibawa ke hadapan Yesus, bagaimana dengan laki-laki yang tidur dengan dia? Tidak ada penjelasan apa-apa dalam hal ini, kita hanya diperhadapkan dengan fakta wanita ini seorang diri menanggung hukuman dirajam batu untuk perbuatannya itu.

“Musa memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan seperti ini. Apakah pendapatMu akan hal ini?” Licik luar biasa jebakan pertanyaan ini. Kalau Yesus mengatakan jangan rajam wanita ini, Dia akan dipersalahkan sebagai seorang rabi yang tidak menaati hukum yang sudah Musa buat. Tetapi kalau Yesus mengatakan rajam wanita ini dengan batu, maka mereka akan mendapatkan celah untuk menghina dan mengejek Dia, seorang yang dikenal sebagai sahabat dari pemungut cukai dan orang-orang berdosa, sekarang menghadapi tekanan dari pemimpin-pemimpin agama akhirnya berbalik mengkhianati mereka.

Kalau wanita itu ada di tengah-tengah kita dan situasi seperti ini diperhadapkan kepada kita pada hari ini, apa yang harus kita kerjakan dan lakukan? Barangkali yang akan kita kerjakan dan lakukan persis sama dengan mereka yang hadir pada waktu itu, yaitu diam-diam pergi dengan sikap, “Gua ngga mau berurusan dengan yang beginian…” Secara logika, apa untungnya Yesus membela wanita ini? Tidak ada. Kadang-kadang di tengah situasi seperti itu kita bilang, “Sudahlah, tidak usah terlibat ikut campur.” Pertama, kasusnya sudah jelas, perempuan ini tertangkap basah. Kedua, apa untungnya engkau membela perempuan seperti ini? Seringkali keputusan dan tindakan kita cenderung berdasarkan aspek ini: Apa untungnya bagi saya? Apa kaitannya dengan saya? Aspek like and dislike, kalau saya suka saya akan bela dia, kalau saya tidak suka saya pergi. Bagaimana pandangan orang terhadap saya kalau saya membela dia? Dengan pertimbangan seperti itu kita akhirnya tidak melihat manusia itu sebagai mahluk yang namanya manusia, a human being. Yesus Kristus menjadi contoh teladan bagi kita apa artinya keindahan kemanusiaan; apa artinya kita menjadi manusia yang betul-betul melihat orang lain itu sebagai manusia yang bernilai. Hari itu wanita yang tertangkap berjinah ini diperhadapkan kepada Kristus, dan Kristus mengasihi dia sebagai seorang manusia yang berdosa yang membutuhkan anugerah pengampunanNya.

Bagaimana Yesus menjawab pemimpin-pemimpin agama ini? Alkitab mencatat Yesus diam tidak menjawab dan membungkuk dan menuliskan sesuatu di tanah. Mereka terus mendesak Yesus dengan pertanyaan yang sama, dan dua kali dicatat Yesus menulis di atas tanah. Apa kira-kira kalimat yang Yesus tulis itu? Kita tidak tahu apa yang Yesus tulis di situ. Saya mengira-ngira yang Yesus tulis di situ adalah “Jangan membunuh, namun setiap orang yang marah kepada sesamanya sudah membunuh”; “Jangan berjinah, namun setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya sudah berjinah dalam hatinya”; “Jangan berdusta,” dan seterusnya. Jelas ada sesuatu yang Ia tulis dan apa yang Ia tulis itu menjadi sesuatu yang menohok dan menusuk hati orang-orang yang ada di situ sehingga waktu Yesus mengatakan, “Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah dia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini…” satu-persatu mereka pergi.

Apa hal yang kita belajar dari peristiwa ini?

Yang pertama, menjadi seorang manusia yang indah tidak tergantung dari apa yang kita kenakan dan penampilan luar kita. Bukan kecantikan dan kegantengan yang membuat kita menjadi manusia yang indah; bukan pula barang-barang mewah yang kita pakai dan kenakan yang menentukan kita menjadi manusia yang indah. Tuhan kita tidak seperti itu. Tuhan Yesus menjadi sosok pribadi yang agung dan indah, the most beautiful person ever lived in this world, dari keteduhan mataNya, dari keindahan senyumNya, dari keagungan karakterNya, dari kesabaran dan belas kasihanNya, setiap orang yang pernah bertemu dengan Kristus kagum dan terpesona dengan pribadiNya yang tidak pernah mereka jumpai pada diri siapapun. Kita tidak akan mungkin pernah bisa menjadi seindah Yesus Kristus Tuhan kita, namun firman Tuhan memanggil kita untuk senantiasa meneladani keindahan Dia, keindahan yang datang dari dalam, satu karakter dan ‘inner beauty’ yang dihasilkan dari kesadaran akan anugerah Tuhan yang menerima diri kita sebagaimana adanya. Dari dalam diri kita mengalir keluar hal yang indah, kata-kata yang membangun dan menguatkan orang. Walaupun kita miskin secara harta, tetapi kita bisa berlimpah di dalam kekayaan rohani. Walaupun kita kekurangan dan hidup sehari-hari dalam kesederhanaan, tetapi kita bisa menjadi orang yang senantiasa mengalirkan kelimpahan berkat bagi orang lain. Itulah keindahan yang seharusnya keluar dari hidup setiap anak-anak Tuhan.

Yang kedua, Yesus Kristus menghargai setiap orang apa adanya sebagai manusia yang dicintai dan dikasihiNya. Demikian sepatutnya kita menghargai setiap orang seperti itu. Tidak ada kaitannya kita menghargai dia karena kita bisa memperoleh keuntungan daripadanya. Tidak juga karena ada kebaikan atau hal-hal yang saya terima dari dia. Juga bukan oleh karena berdasarkan suka tidak suka, atau preferensi tertentu, tetapi hanya karena dia seorang manusia, a human being, yang dicintai dan dikasihi oleh Tuhan.

Yang ketiga, pada waktu kita bertemu dengan orang yang sudah berbuat salah dan berbuat berdosa, sikap hati kita yang pertama-tama harus keluar adalah hati yang penuh dengan belas kasihan. Itulah yang membuat orang yang keras bisa datang berbalik kepada Tuhan. Pelayanan gereja jangan sampai menjadi seperti orang Farisi yang eksklusif tidak mau menjangkau orang karena kita takut kesucian gereja kita tercemar oleh ketidak-sucian mereka. Selama kita menjadi orang Kristen yang terus hidup di dalam ke-Farisi-an kita, kita tidak akan pernah seperti Tuhan Yesus Kristus. Kita tidak peduli dengan keselamatan orang, seperti pemimpin agama yang mengutuki orang-orang yang mereka tidak suka. Itulah attitude orang Farisi. Betapa kontras dan berbeda dengan Kristus yang datang menghampiri mereka, memberkati dan menyembuhkan. Itulah hati Gembala yang agung dan indah. Seperti Kristus, hati kita harus simpati; hati kita harus luas dan lapang. Biar melalui pelayanan seperti itu banyak orang dibawa kepada Kristus, bukan untuk menambah orang hadir di gereja, bukan untuk memperbanyak program. Tetapi setiap kali orang datang kepada Yesus Kristus, mereka menemukan sukacita dan kepuasan berjumpa dengan sosok pribadi yang indah itu. Jelas wanita itu salah. Jelas catatan sejarah hidupnya yang kotor itu tidak bisa dihapus. Jelas dia tertangkap basah berjinah. Tetapi apakah gereja membiarkan orang-orang seperti itu? Gereja harus menjadi gereja yang menawarkan sesuatu yang tidak ada di dalam dunia ini. Gereja harus menjadi the source of God’s healing and God’s grace.

Rasul Petrus mengatakan, “…kasih menutupi banyak sekali dosa” (1 Petrus 4:8). Bukan berarti kita tutup mata ada kesalahan dan dosa dan bukan berarti kita kompromi dengan dosa, tetapi kata “menutup” berarti tidak membongkar-bongkar; “menutup” berarti menyelesaikan persoalannya, orang itu perlu pengampunan, beri dia kesempatan kedua; “menutup” berarti tidak membesar-besarkan kesalahannya di depan publik. Itulah pengampunan Yesus yang diberikan kepada wanita itu. Itu sebab Yesus berkata, “Aku pun tidak akan menghukum engkau, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi…” Biarlah kita mencintai dan mengasihi Kristus dan biarlah keindahanNya juga menjadi bagian dalam hidup kita masing-masing. Kita juga perlu pengampunan dari Tuhan, kita haus akan cinta kasih Tuhan karena kita juga tidak lebih baik daripada orang-orang lain, namun dicintai oleh Tuhan tanpa Tuhan mengingat lagi akan setiap dosa kita pada waktu kita datang mengaku di hadapanNya.(kz)