04. God’s BEST GIFT in the WORST TIMES

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri “Mengalami Allah dan PenyertaanNya” (4)
Nats: Mazmur 23, Yohanes 10:11-18

Kita hidup di dalam dunia modern dengan segala kecanggihan teknologi sarana komunikasi yang mempermudah banyak hal bagi hidup kita. Jaman dulu orang berpacaran jarak jauh harus menunggu dua tiga minggu untuk mendapatkan surat cinta dari kekasih yang dikirim tukang pos. Jaman sekarang, adanya skype di computer dan smartphone membuat orang yang terpisah ribuan kilometer pun bisa mengobrol muka dengan muka. Tetapi bisa jadi kita telah tertipu dengan konsep bahwa hidup kita sekarang ini menjadi jauh lebih mudah daripada orang-orang yang hidup tempo dulu; bahwa relasi kita dengan orang lain sekarang ini menjadi lebih indah daripada orang-orang yang hidup di masa lalu? Tidak sama sekali. Bukankah kita melihat realita hidup pernikahan orang jaman sekarang tidak lebih indah dan lebih baik meskipun mungkin semua kemajuan teknologi itu mempermudah komunikasi kita? Bukankah perselingkuhan, perzinahan dan perceraian justru jauh lebih banyak di tengah semua kecanggihan alat komunikasi yang ada?

Kita bisa memakai segala kecanggihan alat monitor, memasang kamera di pojok-pojok ruang kantor, me-record data dari karyawan, dsb. Kita pikir semua itu bisa mempermudah kita me-manage pekerjaan kita. Sampai pada satu titik baru kita sadar segala kecanggihan itu tidak bisa menghalangi rekan kerjamu menusuk dan memfitnahmu dari belakang; segala kecanggihan itu tidak bisa melindungimu dari hati yang iri dan dengki dari rekan bisnis yang mau menghancurkanmu.

Kemajuan teknologi di dalam dunia kedokteran memberikan chance bagi dokter mendeteksi sakit-penyakit sedini mungkin, tetapi segala kecanggihan itu tetap tidak bisa mencegah penyakit itu datang kepada kita dan tetap tidak bisa mencegah kematian tiba kepada setiap kita. Maka kesimpulannya, dari dahulu sampai sekarang hidup itu tetap susah dan sulit adanya. Life is still difficult, karena sifat dosa tidak pernah berubah, karena sifat manusia tidak pernah berubah.

Namun bahayanya, orang dulu sangat tahu bahwa hidup ini susah dan sulit dan mereka bersiap hati menjalani susah dan sulit itu; sedangkan orang modern dengan segala kecanggihan dan kemajuan dunia, kita dan anak-anak kita bisa terhanyut dan berpikir bahwa hidup ini gampang dan mudah adanya dan akhirnya kita tidak siap untuk menghadapi hidup ini susah dan sulit. Kita perlu tahu dan melihat ada perbedaan yang besar, ada jarak yang besar antara realita dan bayang-bayang image yang dibuat tentang realita. Yang tidak bisa sanggup membedakan antara fakta realita dan image akan realita itu akan mengalami benturan yang begitu besar ketika prahara datang ke dalam hidupnya.

Maka harapan dan doaku, tahun demi tahun kita lewati, kita hidup, kita bekerja, mari kita bersiap hati bahwa hidup kita ke depan tidak akan lebih lancar, lebih indah dan lebih mudah daripada sebelumnya. Satupun di antara kita jangan boleh berpikir bahwa kita bisa terhindar dari segala kesulitan dan tantangan dalam hidup ini. Mari kita selalu siap sedia jalan ke depan dengan menerima memang hidup ini tidak gampang dan tidak mudah adanya. Orang yang tidak pernah bersiap hati ketika menghadapi hal-hal yang tidak terduga, menghadapi prahara dan badai dalam hidup, orang itu akan terus tinggal di dalam pusaran pertanyaan “Kenapa hal ini terjadi kepadaku?” “Bagaimana seandainya?” dan terus hanyut di dalam rasa marah, sedih, menyesal, mempersalahkan. “Seandainya… seandainya…,” kita berandai-andai tetap tidak akan merubah fakta realita hal itu sudah terjadi.

Apa yang menjadi ‘the worst times’ di dalam hidupmu? Ujian gagal? Tidak naik kelas? Diputus cinta? Bankrut? Kehilangan pekerjaan? Ditipu rekan bisnis? Difitnah? Sakit dan kematian orang yang dikasihi? Setiap orang mengalami dan pasti akan mengalami ‘the worst times’ di dalam hidupnya. Mari kita bersiap hati di dalam hidup ini untuk momen-momen seperti itu. Sekarang mungkin belum kita hadapi akan banyak hal di depan kita akan lewati. Pada saat kita merasa kita tidak sanggup berdiri dan berjalan maju, ingatkan hatimu bahwa Gembala yang baik ada di depan untuk menuntunmu. Puji Tuhan, Alkitab memberikan kepada kita janji-janji dan kekuatan untuk mempersiapkan hati kita menghadapi momen-momen seperti itu, ‘the shadow of death’ yang bisa datang kapan saja di dalam hidup setiap kita. Seperti nyanyian pujian Zakharia akan kedatangan Mesias, “…Untuk menyinari mereka yang diam di dalam kegelapan dan dalam naungan maut…” (Lukas 1:79).

Seperti yang dikatakan oleh Mazmur 23 ditulis oleh raja Daud, yang berkali-kali mengalami ‘the worst times’ dalam hidupnya, Allah memimpin kita di padang rumput yang hijau, tempat yang permai dan indah. Tetapi ada kalanya di tengah perjalanan menuju ke tempat itu, domba-domba Tuhan mengalami suatu kondisi yang tidak bisa kita hindari hari dimana awan gelap itu tiba kepada kita. Lembah yang tadinya permai itu dengan segera berubah menjadi gelap, lembah bayang-bayang maut. Pada waktu itu udara yang tadinya sejuk dan nyaman dengan segera berubah dingin menggigilkan. Sinar matahari yang tadinya terang dengan segera hilang tertutup kabut yang tebal sehingga pandangan mata menjadi terbatas adanya.

Namun di tengah pengalaman pahit dan prahara yang datang ke dalam hidupnya, Daud bisa berkata, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya sebab Engkau besertaku. GadaMu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku…” (Mazmur 23:4). Daud memakai kata “sekalipun” yang sama sekali kontras dengan kata “seandainya.” Meskipun dua-dua tidak bisa merubah kenyataan fakta realita yang ada, kata “seandainya” adalah satu excuse sedangkan kata “sekalipun” merupakan satu penerimaan terhadap apa yang terjadi dalam hidupnya.

Kita akan makin susah dan sulit hidup jikalau tidak mau menerima realita hal yang tidak baik terjadi kepada kita. Kita akan makin susah dan sulit melangkah dan berjalan jikalau kita terus berandai-andai hal itu tidak terjadi. Ini adalah hidup. Sekalipun sekeliling kita gelap gulita, tidak tahu jalannya kemana dan bagaimana, arahnya kemana, sandar kepada apa, dsb, tetap kita harus melangkah dan tidak bisa diam di situ.

Seorang hamba Tuhan memberikan ilustrasi yang sangat baik. Dia memperlihatkan sebongkah batu yang di dalamnya ada1% tembaga. Bagaimana tembaga yang hanya 1% itu bisa dikeluarkan dari batu itu? Batu itu harus mengalami proses ditembak dengan air dan api dan dihancurkan sampai menjadi butiran pasir, kemudian pasir tembaga yang naik ke permukaan disaring dan diambil sedangkan yang turun ke dasar itu dibuang. Pasir tembaga itu kemudian berpindah proses, dicampur dengan satu bahan kimia dan dibakar dalam suhu yang tinggi sehingga racun sulfur yang terkandung di dalam pasir tembaga itu menguap. Maka berbeda dengan proses pertama, di proses kedua ini justru yang turun ke dasar adalah pasir tembaga yang sudah dimurnikan, itulah yang diambil. Dari sebuah batu yang besar yang seolah tidak ada nilainya, setelah diproses dia berubah menjadi sekeping tembaga yang bisa dibentuk menjadi barang perabot yang berharga.

Jangan menghindar waktu Tuhan memproses kita melewati lembah kekelaman, karena kita akan tahu di ujung sana Ia akan memimpin kita menjadi seorang yang sama sekali berbeda daripada di awal. Engkau akan dibentuk dan diproses oleh Tuhan indah di dalamnya. “Karena kita ini buatan Allah…” His workmanship, melalui tantangan dan kesulitan yang kita hadapi, Tuhan membentuk kita sampai akhirnya menjadi perabot yang indah melakukan pekerjaan baik yang telah Ia persiapkan bagi kita (Efesus 2:10). Pembentukan Tuhan membentuk kita melewati lembah kekelaman menjadi sesuatu yang tidak akan pernah sama seperti sebelumnya. Jangan kecewa dan lari dari proses itu karena itu menjadi keindahan yang Tuhan pasti akan lakukan bagimu. Mungkin proses itu lambat dan berat, mungkin sampai kita tua dan lanjut usia, tetapi pada akhirnya kita akan flourished dan indah dibentuk Tuhan.

Yang kedua, pengenalan raja Daud akan Tuhan menjadi berbeda, dari ayat 1-3 yang berbicara tentang Tuhan sebagai “Ia” di ayat 4 berubah menjadi “Engkau.” Melalui proses melewati lembah kekelaman bayang-bayang maut Daud mengenal Tuhan lebih dekat, lebih dalam dan lebih akrab. Di dalam dunia yang terus menawarkan dan menyediakan berbagai resources, back-up, plan B, asuransi, tidak mudah kita sampai kepada satu titik dimana kita sudah tidak punya apa-apa lagi selain kita bersandar kepada Tuhan. Dan pada waktu momen seperti itu datang ke dalam hidup kita, tidak ada relasi lain yang lebih personal selain kita hanya bisa mencurahkan isi hati kita kepada Tuhan. Di situlah Tuhan yang tadinya hanya “Ia” di dalam hidupmu menjadi “Engkau” tempat kita berseru memanggil dalam doa. “Tidak ada lagi yang lain selain Engkau…” Kalau kita sampai pada momen itu, hati kita akan bahagia sebab kita mengalami Sang Pemberi Hidup yang memiliki segala sesuatu adalah Gembala yang tidak pernah pergi dan meninggalkan kita, Dia hadir menyertai kita selama-lamanya. Pengenalan akan Tuhan lebih dalam dan lebih intim hanya bisa dihasilkan melalui lembah kekelaman.

Yang ketiga, muncul satu cetusan hati yang begitu pendek, “Fear no evil…” aku tidak takut bahaya. Perspektif berubah, keberanian muncul, justru itu dihasilkan di dalam lembah kekelaman. Ini dalah suatu paradoks yang indah yang hanya bisa terjadi di dalam Tuhan. Bukankah lembah kekelaman senantiasa menciptakan kekuatiran, ketakutan dan ketidak-berdayaan di dalam hidup kita? Tetapi justru di sini dihasilkan satu efek emosi yang sama sekali berbeda, fear no evil. Dan kita tidak boleh abaikan, keberanian itu bukan keberanian seorang superhero, bukan keberanian seorang jagoan. Keberanian itu adalah keberanian seekor domba. Tidak ada tanduk, tidak ada alat untuk membela diri. Bagaimana domba bisa tidak takut kepada serigala bisa memangsanya? Keberanian domba bukan keberanian karena takabur, bukan keberanian karena ada senjata untuk membela diri, keberanian yang lahir bukan karena kekuatan diri, keberanian yang muncul bukan karena sanggup. Keberanian itu muncul sebab domba tahu siapa gembala yang ada di belakangnya.

Sampai kapanpun kita tetap domba yang mudah dan gampang diserang. Kita tidak punya kekuatan menghadapi tekanan dan kejahatan dari dunia ini; kita tidak sanggup menghadapi segala tipuan dari si Jahat; kita tidak mungkin bisa tahan berdiri menghadapi berbagai macam serangan dan fitnahan yang datang kepada kita, karena selama-lamanya kita hanya seekor domba. Tetap pada waktu kita sadar dan tahu ada Gembala yang senantiasa berjalan dan memelihara kita, di situlah lahir keberanian seekor domba berjalan melewati lembah kekelaman ini. Fear no evil.

Jangan takut bersuara menyatakan kebenaran; jangan takut menjadi anak Tuhan yang menyuarakan kasih dan keindahan kepada dunia ini; jangan takut untuk berkorban bagi kebenaran; jangan takut mencegah dan melawan kejahatan dan ketidak-adilan yang terjadi di sekitarmu; jangan takut berdiri dan menyatakan sikap di tengah penindasan terhadap orang-orang benar. Beranilah berdiri menolak setiap kejahatan, beranilah berdiri bagi kemuliaan Tuhan. Beranilah untuk berjalan dan mengambil resiko di dalam hidup ini menyatakan dirimu sebagai anak-anak terang. Itulah keberanian yang seharusnya keluar dari hidup kita.

Saat prahara tiba ke dalam hidupku, Mama saya mengirim whatsapp, “Doaku bagimu dimana saja engkau pergi sebagai hamba Tuhan pikul salib.” Doa seorang mama seperti itu akan selalu menguatkan kita. Tidak boleh kita menjadi orang tua yang hanya mendoakan supaya anak kita hidup lancar, sukses dan kaya. Siapapun kita di dalam dunia ini, pada waktu kita menjadi murid Tuhan dan digembalakan oleh Tuhan, kita selalu harus ikut pola dan teladan Tuhan kita Yesus Kristus sebagai contoh teladan kita yang agung dan mulia. Barulah kemudian sesudah itu keluar kalimat dari Daud, “GadaMu dan tongkatMu itulah yang menghibur aku…” (Mazmur 23:4). Dua alat ini sangat kontras. Gada adalah alat yang dipakai oleh gembala untuk menggebuk binatang buas yang hendak menyerang dombanya. Tongkat adalah alat yang memiliki beberapa fungsi. Pertama, tongkat mencegah supaya domba itu jangan salah jalan, dengan ujungnya yang bengkok untuk menarik lehernya. Kedua, tongkat dipakai untuk menusuk-nusuk domba. Kalau waktu ditusuk-tusuk dengan tongkat domba itu lompat kesakitan, berarti di balik bulunya yang tebal ada kutu atau luka dan infeksi yang berbahaya. Di balik bulu yang tebal tidak bisa kelihatan bahwa domba itu punya luka oleh karena digigit oleh kutu. Maka fungsi dari tongkat itu adalah untuk mengecek adalah hal yang tidak beres, ada luka dan sakit pada domba itu. Di situlah kita mengerti bagaimana gada dan tongkat itu menjadi penghiburan bagi kita. Betapa indahnya Gembala yang memelihara dan menuntun perjalanan hidup kita.

Namun bukan saja Gembala Agung itu memelihara dan menuntun kita, di dalam Perjanjian Baru Tuhan Yesus memberikan satu lagi aspek yang dilakukan olehNya sang Gembala kita. Yesus berkata, “Akulah Gembala yang baik… Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya…” (Yohanes 10:11). Dia bukan saja memberikan rumput yang hijau bagimu; Dia bukan saja memelihara dan melindungi engkau dari segala mara bahaya; Dia bukan saja Gembala yang dengan sabar menuntun hidup kita; Dia bukan saja menjadi penghiburan kita melewat lembah-lembah kekelaman di dalam hidup kita. Gembala itu bukan saja memberikan apa yang kita perlu, tetapi yang paling penting adalah Dia memberikan nyawaNya bagi domba-dombaNya. Kenapa? Karena ada satu sifat dari domba yang sesat dan selalu ingin mengambil jalan sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepadaNya kejahatan kita sekalian (Yesaya 53:6).

A.W. Tozer memberikan satu komentar yang menarik pada waktu dia berbicara mengenai saat Yesus berpuasa 40 hari 40 malam di padang gurun sebelum dicobai oleh Iblis. Bagaimana kondisi dan lingkungan yang mengelilingi Dia, di tengah malam yang gelap di padang belantara, di tengah binatang buas mencari mangsa? A.W. Tozer mengatakan bahwa dia percaya binatang-binatang malam itu menjadi teman yang indah bagi Yesus. Serigala yang buas tidak akan menerkam dan melukai Anak Allah yang sedang berdoa di padang belantara yang terbuka beratap langit penuh bintang. Kenapa? Sebab binatang-binatang itu tahu siapa penciptanya, sehingga malam-malam itu tidak ada satupun binatang menyerang Yesus.

Tetapi bukankah ironis blunder moral terjadi pada manusia, mahluk ciptaan yang tertinggi? Alkitab berkata, “Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya…” (Yohanes 1:11). Musa berkata tentang Israel, umat Allah, “Lalu menjadi gemuklah Yesyurun lalu menendang ke belakang, bertambah gendut engkau, gemuk dan tambun, lalu dia meninggalkan Allah yang menjadikan dia dan memandang rendah gunung batu keselamatannya…” (Ulangan 32:15). Domba-domba itu mengambil jalannya sendiri dan menjadi sesat dan menolak Tuhan, Penciptanya. Allah datang di dalam terang kepada kegelapan dan lembah kekelaman. Lembah kekelaman itu tidak bisa kita tolak; dia muncul dan terjadi tanpa disangka dan diduga dan kita tidak berdaya menghindarinya; tetapi kegelapan adalah the worst times yang dibuat sendiri oleh manusia yang memilih untuk memberontak dan hidup jauh dari Tuhan.

Natal bagi Maria dan Yusuf merupakan peristiwa yang akan terus dibicarakan menjadi bisik-bisik di belakang mereka. Pada waktu Maria berani menerima Bayi Yesus lahir di tengah kehidupannya di situlah mulai silih berganti kesulitan datang kepadanya. Yusuf, tunangannya, berniat untuk menceraikan dia. Pemilik penginapan di Betlehem menolak menerima mereka. Sekarang orang hendak berlibur di satu tempat sudah plan jauh-jauh hari tiket pesawat, pre-book hotel, dsb. Jaman itu sudah pasti tidak ada tempat bagi mereka untuk tinggal jikalau mereka tidak punya sanak keluarga atau punya uang cukup banyak untuk membayar tempat penginapan. Saat dimana sensus dilakukan sudah pasti begitu banyak orang asing datang ke Betlehem, maka sangat sulit mendapat tempat penginapan maupun rumah-rumah yang bisa dijadikan tempat menginap. Maka Alkitab mencatat bayi Yesus lahir di dalam kandang karena tidak ada tempat bagiNya di rumah penginapan. Itulah moral blunder yang dibuat oleh manusia yang menolak Allah Penciptanya, yang menolak Tuhan.

Yesus menggambarkan kedatanganNya sebagai Gembala yang agung, bukan hanya memelihara hidup kita; bukan hanya mencukupkan kebutuhan kita; bukan hanya melindungi dan memimpin kita dari segala ancaman kesulitan dan mara bahaya. Dia adalah Gembala yang menyerahkan nyawaNya bagi engkau dan saya, supaya setiap orang yang datang kepadaNya boleh mengenal dan percaya kepadaNya dan tidak lagi hidup di dalam kegelapan. Natal berarti Allah memberikan dua anugerah yang besar bagi kita. Pertama, Allah Bapa menyatakan kasihNya memberikan AnakNya yang tunggal bagi engkau dan saya. Kedua, Allah Anak memberikan hidupNya bagi engkau dan saya. Apalagi yang kurang dari pemberianNya? Mengapakah engkau masih meragukan kasihNya? Adakah engkau masih tidak mau tunduk dan taat digembalakan olehNya? Yesus Kristus bukan saja memberikan yang terindah dan terbaik bagi kita, Ia juga Allah yang mati dan bangkit menebus engkau dan saya.

Betapa kita bersyukur dan menikmati Natal tahun ini dengan senantiasa menghargai keindahan anugerah dan berkat Tuhan yang begitu dahsyat bagi kita menjadi korban tebusan bagi dosa-dosa kita. Biar Tuhan menjadikan hidup kita menyadari semua ini dan tidak ingin lari tersesat di dalam dosa dan pelanggaran yang tidak sepatutnya kita lakukan lagi dan kembali berkomitmen untuk mau digembalakan oleh Tuhan seumur hidup kita. (kz)