02. Facing Potiphar’s Wife

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri Peperangan Orang Kristen (2)
Nats: Kejadian 39:6b – 23

Kita jangan hanya berpikir bahwa peperangan yang kita hadapi sebagai anak-anak Tuhan semata-mata adalah serangan yang datang dari luar dalam bentuk adversaries, yang berjuang melawan kita dan ingin menjatuhkan kita, yang berusaha menghambat kita dalam segala hal, yang mau melakukan sesuatu yang merugikan kita. Ada semacam peperangan yang terjadi bukan dari luar tetapi dari dalam diri kita. Ada nuansa yang berbeda secara total di antara dua hal ini. Adversaries adalah serangan-serangan dan perlawanan yang bertujuan untuk menghancurkan kita; tetapi ‘inner-battle’ yang datang dalam bentuk pencobaan sifatnya sama sekali berbeda. Godaan itu datang dalam bentuk tipuan, menawarkan sesuatu yang kalau kita ambil nampaknya menguntungkan kita. Mata kita bisa terkecoh melihat tawaran itu memiliki hal-hal yang lebih banyak memberi benefit dan keuntungan daripada kerugian.

Menghadapi peperangan ‘inner-battle’ strategi dan perjuangan yang harus ada pada kita sama sekali berbeda dibandingkan dengan peperangan melawan Goliath. Menghadapi dan menaklukkan gunung yang tinggi menuntut strategi yang berbeda; menghadapi lubang yang dalam dan sempit menuntut strategi yang berbeda. Pada waktu engkau berada di dalam penjara 2×2 meter, pada waktu tubuhmu terkurung tidak bisa keluar dari sana, pada waktu engkau tidak bisa berbuat apa-apa, tidak ada yang bisa engkau lakukan dan kerjakan di situ, kita berhadapan dengan diri sendiri, kita berhadapan dengan pikiran kita, kita berjuang dengan emosi kita. Orang tidak perlu memasukkan virus dan bakteri menyerang kita, orang tidak perlu mengirim pembunuh untuk membunuh kita. Yang bisa melemahkan kita dan sanggup membunuh kita perlahan-lahan adalah hati kita yang kecewa, semangat yang patah, pengharapan yang punah dan tidak ada lagi yang tersisa.

Facing Potiphar’s wife. Dimana peperangan yang dihadapi oleh Yusuf? Peperangannya bukan di medan pertempuran, peperangannya adalah menghadapi seorang isteri Potifar. Ini adalah kisah dimana dari awal Yusuf melihat masa depan, rencana yang indah, satu dreams akan masa depan yang Tuhan beri kepada dia, tetapi dalam satu hari saja mimpi itu hancur luluh tidak ada kemungkinan tercapai lagi. Dan yang lebih menyedihkan adalah Yusuf tidak pernah mengira dan tidak pernah menduga bahwa yang menghancur-luluhkan mimpi itu adalah saudara-saudaranya sendiri (Kejadian 37). Kita sebagai orang yang membaca kisah kehidupan Yusuf sampai akhir, kita tahu bahwa melewati proses itu akhirnya Yusuf menjadi seorang yang berhasil, sesuai dengan apa yang Tuhan sampaikan kepadanya. Namun bagi Yusuf yang mengalami proses yang panjang dan berat lebih dari 20 tahun lamanya, adakah terbersit harapan bahwa hal ini satu hari kelak akan menjadi satu kenyataan dan satu hari kelak dia bisa berkata, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakan menjadi kebaikan…” (Kejadian 50:20)? Saya percaya ini adalah satu pergumulan yang teramat sulit adanya. Tetapi Yusuf tidak menjadi lumpuh oleh kekecewaan dan kepahitan atas situasi yang dia alami. Sebagai budak di rumah Potifar dengan baik dia mengerjakan segala yang dipercayakan kepadanya. Dia hanya percaya Allah itu ada, dia hanya percaya Allah itu berkuasa, Allah itu sanggup bertindak, menyertai dan memelihara dia. Banyak orang dapat menghindari setiap godaan dan pencobaan yang datang kepadanya sebab mungkin setelah dia pikir baik-baik, kalau tawaran itu dia ambil, konsekuensi yang terjadi kepadanya akan fatal dan dia akan mengalami kerugian yang sangat besar. Tetapi kalau tawaran dan godaan yang datang begitu menggiurkan dan menarik, resiko lebih kecil dibandingkan dengan keuntungan yang akan didapat, bukankah sdr dan saya setuju itulah situasi dimana Yusuf berada? Yusuf hanya seorang budak, tidak punya keluarga di situ, dia tidak punya apa-apa. Dia hidup hanya dengan satu prinsip yang berlaku bagi semua budak: berjuang menjadi ‘survival of the fittest.’ Tawaran yang ada di hadapannya adalah tawaran yang dia tidak perlu takut kehilangan apa-apa. Nothing to lose.Bahkan yang dia akan dapatkan adalah hidup yang terjamin dari wanita yang paling berkuasa di rumah Potifar. Tawaran yang sangat menguntungkan dan akan sangat memudahkan hidupnya. Sudah pasti posisinya sebagai orang yang paling dipercaya di rumah itu tidak akan diganti sebab ada isteri Potifar yang akan menjadi ‘backing’ bagi posisinya. Dan sebaliknya, sudah pasti ketika tawaran itu dia tolak, konsekuensi yang ada akan sangat besar. Di tengah-tengah tawaran seperti itu, betapa mudah kaki melangkah dan tergoda untuk mengambilnya. Satu-satunya yang membuat seseorang seperti Yusuf tidak mau mengambilnya adalah karena cintanya dan hormatnya kepada Tuhan. Kadang-kadang momen seperti itulah yang memperlihatkan dimana letak hati kita di hadapan Tuhan dan bagaimana kita lebih mencintai dan menghormati Tuhan melampaui keuntungan yang bisa kita peroleh dengan menerima godaan seperti itu.

Masing-masing kita pernah dan akan menghadapi berbagai macam tawaran dan godaan dalam hidup kita. Meskipun dalam bungkus yang berbeda-beda, tantangan hidup orang percaya tidak akan lepas dari semua ini. Kalau itu adalah godaan dan temptation yang datang kepadamu, mari hari ini dengan berani engkau menolaknya. Dengan tegas menutup semua channel jangan ada lagi di dalam hidupmu dan membungkus hidup kita dengan kekudusan dan kesucian Tuhan. Kalau engkau hidup di dalam kebiasaan buruk, kemalasan, mari hari ini lawan semua itu dengan satu jiwa yang punya fighting spirit dalam dirimu. Engkau tidak akan mungkin bisa mencegah temptation datang kepadamu tetapi engkau punya pilihan untuk menolaknya.

Belajar ambil satu sikap dan keputusan yang penting dan benar. Jangan pikir Setan pasif dan diam saja. Lukas 4:13 mencatat Setan selalu menunggu saat dan kesempatan yang baik untuk mencobai Yesus. Dia seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (1 Petrus 5:8). Sebagai anak-anak Tuhan, Setan selalu mencari kesempatan dan dengan berbagai cara akan berusaha menjatuhkan kita. Mungkin kepada orang yang satu melalui serangan melalui tekanan aniaya dan permusuhan; mungkin kepada orang yang lain serangan datang dalam bentuk godaan dan tawaran yang terlalu menggiurkan untuk ditolak. Kita harus mawas diri dan jangan sampai menjadi lengah. Beranilah menolak setiap temptation yang ada di depanmu. Buang semua yang bisa menjatuhkanmu, apa yang engkau lihat, engkau dengar, engkau baca, kalau itu bisa membawamu ke dalam pencobaan dan membuatmu akhirnya kehilangan sukacita persekutuan dengan Tuhan yang kudus dan suci adanya. Berani melepaskan setiap kemalasan dan kebiasaan yang terus-menerus membuatmu lemah dan kalah. Inilah peperangan yang engkau hadapi melawan dirimu, si aku yang Tuhan mau terus dibentuk semakin indah dan semakin menyerupai gambar Kristus, teladan kita. Perjuangan itu hanya bisa dimenangkan jikalau cintamu kepada Tuhan lebih daripada segala-galanya.

“Adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya. Selang beberapa waktu isteri tuannya memandang Yusuf dengan berahi, lalu katanya, “Marilah tidur dengan aku…”” (Kejadian 39:6b-7). Kisah Yusuf memperlihatkan proses ini terjadi bukan dalam satu hari. Ketika mata isteri Potifar jatuh kepada ketampanan Yusuf dan keelokan sikapnya, maka terpincutlah hati dan mabuk kepayanglah dia. Segala macam cara dan teknik dia lakukan dari hari ke hari untuk memancing perhatian dan hati Yusuf. Penolakan Yusuf tidak membuatnya mundur dan pergi meninggalkannya. Namun ketika cintanya tidak disambut oleh Yusuf, murka dan kemarahan isteri Potifar begitu mengerikan. Dia sampai kehilangan akal sehat dan penuh dengan kemarahan yang tidak memikirkan konsekuensi apa yang akan Yusuf hadapi. Dari situ kita tahu memang ini bukan cinta yang sungguh-sungguh melainkan hanya birahi dan nafsu belaka. Seseorang yang sungguh mencintai orang lain, cintanya akan berusaha melindungi orang itu, mengasihinya dengan penghargaan dan respek kepada orang itu. Itulah yang Yusuf lakukan kepada Potifar dan isteri Potifar juga.

Isteri Potifar tidak segera mundur ketika Yusuf menolak tawarannya. Dari hari ke sehari dia memakai berbagai teknik dan cara merayu Yusuf untuk tergoda. Tetapi sampai kepada satu titik dimana sudah tidak ada lagi strategi yang lain, dia set up satu jebakan yang tidak ada cara lain bagi Yusuf selain ambil langkah seribu (Kejadian 39:12). Kita tidak kuat, kita tidak sanggup menghadapi strategi seperti itu, kita harus lari.

Bagi sebagian orang, lari adalah hal yang memalukan; lari bukan tanda pemberani; lari bukan sikap seorang hero; lari dianggap sebagai pilihan seorang pengecut; lari tanda seorang yang kurang iman. Tetapi hari ini saya mengatakan kepadamu, lari tidak selamanya pilihan yang pengecut. Untuk lari, seseorang memerlukan satu jiwa yang humble, yang tahu dan sadar tidak kuat dia bertahan dan bertarung di situ. Untuk lari, seseorang memerlukan hati yang peka dan tahu dia tidak dipanggil untuk mati konyol dan berlagak menjadi seorang superman yang tangguh terhadap tantangan yang ada di depannya. Lari bukan berarti orang itu kalah, tetapi itu adalah satu strategi yang pada saat tertentu perlu kita ambil dalam menghadapi pencobaan yang kita hadapi.

Battle yang kedua yang dihadapi oleh Yusuf, dia ada di dalam penjara bukan karena kesalahan yang diperbuatnya. Dia mau berseru dan berontak, “I’m innocent!” tetapi siapa mau dengar? Engkau dan saya yang membaca kisah ini terhibur karena mengetahui bahwa di tempat itu Tuhan menyertai Yusuf (Kejadian 39:21). Tetapi mungkin terbersit satu pertanyaan yang menggelitik kita, kenapa kalimat ‘Tuhan menyertai Yusuf’ baru ada setelah peristiwa itu terjadi, setelah dia ditangkap dan dipenjarakan? Bukankah sebaiknya Tuhan menyertai Yusuf justru pada waktu moment-moment yang kritis sehingga hal-hal itu tidak perlu terjadi?

Victor Hugo pernah mengatakan, api neraka tidak sebanding dengan panasnya api kemarahan dari seorang wanita yang terhina. Kemarahan yang luar biasa mendidih dari diri isteri Potifar sehingga menjadi satu pembalasan dendam yang sangat mengerikan. Yusuf harus membayar mahal penolakan dan penghinaan yang dia alami. Maka sudah tidak ada lagi kebenaran dan tidak ada lagi rasa malu. Kepada seisi rumahnya dia berteriak-teriak membuat cerita yang bertolak belakang dengan fakta yang sebenarnya. Yusuf bisa apa? Yusuf tidak punya kemungkinan untuk membela diri.

Kalau Yusuf lari keluar dari kamar wanita itu sambil berteriak, “Isteri Potifar berusaha memperkosa aku,” siapa yang mau percaya? Bukankah seluruh dunia akan lebih percaya kepada cerita isteri Potifar? Dari sudut apapun Yusuf tidak bisa membela diri. Dia hanya budak. Dia orang asing. Dari dua hal ini saja, tidak ada pengadilan yang bisa membela dia. Belum lagi, yang punya alat bukti siapa? Isteri Potifar. Alat buktinya adalah baju Yusuf ada di kamar tidur dia. Secara hukum posisi isteri Potifar sangat kuat. Secara posisi dia isteri orang kaya dan berkuasa. Isteri Potifar dengan mudah membuat skenario yang dia mau. Siapapun pasti percaya kepada ceritanya. Kepada siapa Yusuf bisa berharap? Satu-satunya orang yang ada di dalam kamar itu selain Yusuf hanya isteri Potifar. Satu-satunya yang punya fakta yang sebenarnya dan menceritakan kebenaran apa adanya di dalam peristiwa itu hanya isteri Potifar, dan jelas dia tidak akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu. Semua pegawai yang ada di rumah Potifar jelas akan memihak kepada isteri Potifar, pertama karena kisah isteri Potifar tentu lebih ‘make sense’, kedua mereka pun posisinya budak, kalaupun mereka tahu Yusuf yang benar, siapa yang mau mengorbankan diri membela Yusuf?

Waktu kita hidup melakukan yang benar dan oleh karena pilihan itu engkau di-punished, difitnah, dan semua orang percaya kepada fitnahan itu, engkau bisa apa? Yang bisa engkau lakukan hanya seperti Yusuf, yaitu diam. Tidak ada yang bisa Yusuf katakan untuk membela diri. Dia hanya diam. Itu adalah your inner-battle. Itu adalah satu peperangan yang tidak gampang. Diam, itu adalah satu sikap dimana Yusuf kalah di dalam perjuangan hari itu demi supaya dia menang dalam peperangan di hari yang akan datang. Dia tidak mau menjual apapun untuk membela diri karena dia tahu itu adalah satu peperangan yang dia tidak mungkin menang di situ.

Apa yang kita belajar dari kisah ini? Mari kita belajar menjadi orang Kristen yang tidak boleh ikut menjadi pemfitnah merekayasa sesuatu yang salah untuk merugikan orang lain. Apa yang keluar dari mulutmu ‘just tell the truth, only the truth and nothing but the truth.’ Kita tidak boleh menjadi orang Kristen yang ikut-ikut menyebarkan kabar dusta dan menghasut orang. Dan pada waktu engkau berada dalam posisi sebagai orang yang tahu akan kebenaran, beranikah engkau menyatakan hal itu dan tidak berdiam diri saja? Ini adalah peperangan untuk to do the right thing meskipun mungkin di dalamnya ada konsekuensi engkau menghadapi kesulitan. Kalau engkau saat ini berada dalam posisi difitnah dan dirugikan, belajarlah untuk diam. Kalau hari itu Yusuf berusaha membela diri dan berusaha melakukan dengan cara sendiri, Tuhan akan mendiamkan dan tidak menolong dia. The only way, diam dan silent di situ dan ketahuilah ada Tuhan yang tidak berdiam dan memberikan kekuatan dan penyertaanNya bagimu di dalam setiap hal. Karena waktu akan berjalan dan kebenaran satu kali kelak akan tersingkap dan terbuka di hadapan semua.

Satu hal yang mengherankan dari reaksi Potifar atas cerita yang disampaikan isterinya, memang Alkitab mengatakan Potifar bangkit amarahnya, namun kenapa dia tidak sampai membunuh Yusuf? Sebagai tuan yang berkuasa atas mati hidup budak yang sudah dibelinya, betapa mudah saat itu Yusuf langsung dieksekusi, bukan? Kenapa di dalam kemarahannya Potifar hanya menangkap Yusuf dan memasukkannya ke dalam penjara istana yang notabene penjara yang cukup aman karena di situ Yusuf tidak dicampur dengan kriminal biasa? Kita hanya bisa menduga-duga karena Alkitab tidak memberikan informasi mengenai hal ini. Barangkali dalam lubuk hati Potifar sedalam-dalamnya dia tahu karakter Yusuf tidak begitu dan dia tahu isterinya tidak berkata benar meskipun ada bukti baju Yusuf di tangannya. Kita tidak tahu. Yang kita tahu di situlah bukti pemeliharaan dan anugerah providensi Tuhan yang luar biasa atas hidup Yusuf.

Silent adalah satu sikap yang penting pada waktu engkau dan saya menaruh dan meletakkan setiap perjalanan hidup kita di depan kepada Tuhan yang sanggup dan bisa meneguhkan hidup engkau dan saya. Adakalanya ini hal yang tidak gampang dan tidak mudah. Tetapi tidak selalu engkau bisa membela dirimu di tengah pusaran fitnah dan kebohongan yang ada. Semakin engkau mengeluarkan kata-kata, semakin salah posisimu di mata orang yang sudah termakan racun itu. The only way is silent, karena Tuhan akan menjadi Allah yang berkarya bagimu. Pengharapanmu kepada Tuhan tidak akan pernah dikecewakanNya. Allah yang setia itu, Allah yang baik dan berkuasa itu menjadi Allah yang dipegang dan disandari oleh Yusuf selama-lamanya. Silent bukan sikap yang pasif dan tidak berbuat apa-apa. Kita bisa melihat pengharapan yang ada di dalam diri Yusuf di tengah silent-nya, sehingga di dalam penjara, di dalam situasi yang sangat tidak conducive sekalipun dia tetap melakukan yang terindah dan terbaik di situ.

Winston Churchill, perdana menteri Inggris saat perang dunia kedua melawan Nazi Jerman, jelas waktu itu Inggris sudah lemah dan dibom habis-habisan, Jerman sudah dekat dan akan menaklukkan Inggris, dia hanya berkata, “HOPE. Kita hanya punya hope.” Hope itu mendorongmu untuk belajar melakukan apa yang engkau bisa ketimbang mengeluh dan ditelan ketakutan. Hope itu mendorongmu untuk belajar dari masa lalu ketimbang terus dikuasai perasaan guilty atas mistakes yang sudah terjadi di masa lalu. Hope senantiasa membukakan mata kita akan kesempatan dan kemungkinan karena kita percaya Tuhan in control akan memimpin dan memelihara engkau dan saya.

Itulah sebabnya hari ini ketika represi dan kesulitan datang kepadamu, dengan hope yang ada cintailah hidupmu. Tidak ada orang Kristen yang boleh ditelan oleh kesulitan sehingga tidak mempunyai pengharapan kepada Tuhan di dalam hidup ini. Selalu memiliki sikap hati yang tidak pernah undur dan kecewa di tahun yang baru ini. Biar firman Tuhan sekali lagi menggugah kita masing-masing supaya kita melakukan peperangan kepada diri kita melawan setiap godaan, kemalasan, tipuan, dan segala sesuatu yang membuat kita tidak bisa berdiri tegak untuk menang mencintai dan mengasihi Tuhan. Jaga hati kita di tengah segala tantangan yang mau menghancurkan kita itu tidak menjatuhkan semangat kita, tidak menghilangkan kepercayaan kita dan tidak menurunkan pengharapan kita kepada Tuhan. Kita bersyukur dan percaya Tuhan pasti akan meneguhkan kita. Biar melalui firman Tuhan kita selalu diperlengkapi oleh Tuhan menghadapi kesulitan yang besar karena Tuhan lebih besar daripadanya. Himpitan yang datang tidak meghancurkan kita karena ada Tuhan yang akan membenarkan dan menopang kita. Di situlah kita bersyukur kepada Tuhan selama-lamanya dan berjuang bagi kemuliaan Tuhan selama-lamanya.(kz)