02. Benturan Pemahaman dan Realita

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri “Mengalami Allah dan PenyertaanNya” (2)
Nats: Mazmur 73; Ayub 23:8-9

“Sesungguhnya kalau aku berjalan ke timur, Ia tidak di sana; atau ke barat, tidak kudapati Dia; di utara kucari Dia, Ia tidak tampak; aku berpaling ke selatan, aku tidak melihat Dia…” (Ayub 23:8-9).

Betapa kontras kalimat Ayub dengan kalimat yang diucapkan oleh pemazmur, “Kemana aku dapat pergi menjauhi rohMu, kemana aku dapat lari dari hadapanMu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau…” (Mazmur 139:7-8). Ayat ini bukan saja bicara soal kemaha-hadiran Allah; ayat ini bukan saja bicara akan Allah yang melampaui ruang dan waktu; tetapi ayat ini bicara bahwa Allah tidak akan pernah membiarkan satu jengkal bagian hidup kita lalu begitu saja tanpa perhatian, pemeliharaan dan kasih Tuhan di dalam hidup kita. Itulah sebabnya Mazmur 139 mengingatkan siapapun kita, segala yang kita kenakan pada diri kita, pakaian, perhiasan, segala gelar, jabatan dan atribut dan semua yang kita raih di dalam dunia ini, pada waktu semuanya tanggal dari hidup kita dan berdiri di hadapan Tuhan apa adanya, semua pembentukan hidup kita begitu ajaib dan menakjubkan, mengingatkan we matter to God, kita berharga di hadapan Allah.

Pada waktu kita merasa sepanjang tahun ini kita jalani di dalam kerutinan, menikmati segala hal yang kita raih, atau sebaliknya pada waktu kita merasa kita tidak mendapat yang sepatutnya, materi maupun penghargaan orang terhadap hal-hal yang kita lakukan, pada waktu kita merasa apa yang kita lakukan, kita usahakan, kita kejar dan kita harapkan, semua seolah tidak berarti, betapa gampang dan mudahnya kita menjadi kecewa, betapa gampang dan mudahnya hati kita menjadi undur, betapa gampang dan mudahnya kita merasa kita orang yang tidak berarti di dunia ini.

Memasuki bulan Desember, terutama justru mendekati hari-hari Natal dan Tahun Baru, betapa menyedihkan statistik jumlah anak muda yang bunuh diri di Australia salah satu yang tertinggi di dunia. Usia muda tetapi sudah tidak ada lagi semangat yang men-drive hidup mereka, tidak ada lagi pengharapan yang mendorong hidup mereka, hidup tidak ada arti, tidak ada tujuan, tidak ada mimpi.

You matter to God. Ini merupakan prinsip penting yang terus memimpin hidup kita. Bukan karena kehebatan kualitas yang ada padamu, bukan karena pencapaian dan achievement yang engkau raih, bukan dari bagaimana orang menghargaimu dan recognition mereka kepadamu. Tetapi yang paling penting adalah pada waktu kita berdiri di hadapan Tuhan kita boleh mengerti akan penghargaan Tuhan kepada kita, ciptaanNya; memahami rencanaNya yang baik dan sempurna bagi kita. Di situlah hati kita bisa bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan yang begitu baik dan begitu indah. Di situlah kita mengalami Tuhan yang menyertai kita karena Dia mencintai kita apa adanya sebagai individu-individu yang begitu unik di hadapanNya.

Namun apa yang terjadi ketika pemahaman ini berbenturan dengan fakta realita yang engkau hadapi? Teriakan Ayub begitu memilukan dan mengiris hati. Dari seorang bisnisman yang sukses, seorang yang hebat dan memiliki segala sesuatu, yang dalam hidup keagamaan begitu saleh, baik dan benar, hidup takut akan Tuhan, namun dalam waktu sekejap mata semua anak-anaknya meninggal, seluruh harta bendanya hilang lenyap dirampok, sakit penyakit datang menimpanya. Itu semua penderitaan yang dialami oleh Ayub. Pada waktu situasi-situasi itu terjadi, isterinya sebagai seseorang yang paling dekatpun berkata, “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” (Ayub 2:9). Tetapi Ayub mengeluarkan satu kalimat yang bagi saya begitu agung luar biasa, “Apakah kita hanya mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” (Ayub 2:10, 1:21).

Kiranya kita tertegur dengan kalimat Ayub ini, apakah kita hanya mau yang baik saja dari Tuhan dan tidak mau menerima apa yang tidak baik? Tetapi jujur, ini kalimat yang amat sulit dijalani, ketika barah kulitnya gatal tidak tertahankan, dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, pada waktu sakit menjadi bagian yang tidak pernah lepas menggerogotinya, pada waktu semua orang yang paling dekat satu-persatu menjauh dan meninggalkannya, bahkan empat orang yang tersisa duduk di sampingnya pun mencari-cari kesalahannya dan terus berusaha mendesak Ayub mengakui dosa dan kesalahannya sebagai penyebab dari semua penderitaannya, sulit betapa sulit luar biasa. Bukankah lebih gampang dan lebih mudah di tengah hal yang susah dan sulit itu akhirnya keluar dari mulut kita sumpah serapah dan mempersalahkan segala yang ada? Bahkan tidak jarang terbersit dari pikiran bahwa memang betul semua kejadian yang menimpa kita adalah hukuman dan akibat dari dosa dan kesalahan kita. Tetapi sampai di situpun Ayub tetap mengatakan dia tidak bersalah di hadapan Tuhan dan manusia. Dan memang di pasal yang terakhir Alkitab memberitahu kita memang tidak ada kesalahan apapun pada diri Ayub yang menyebabkan dia menderita semua itu.

Pergumulan Ayub bertambah dalam pada waktu melewati hari demi hari apa yang dia mengerti, apa yang dia tahu tentang Allah begitu berbeda dengan pengalaman dia menjalani imannya. Sebenarnya tidak ada yang berubah dari pengenalan dan pemahaman itu, seperti Asaf pemazmur yang mengatakan, “Surely, God is good…” (Mazmur 73:1). The goodness of God tidak pernah berubah; kebaikan Tuhan ada pada diriNya sendiri dan tidak ditentukan oleh bagaimana kita terhadap Dia. Kebaikan Tuhan tidak ditentukan oleh kondisi dari luar diriNya. Allah itu sungguh baik, itu adalah pemahaman dan pengertian dan dasar iman yang tidak berubah. Aku bersandar dan percaya kepada Allah seperti itu.

Tetapi betapa tidak gampangnya pengalaman hidup menjalani iman yang sedemikian. Pengalaman hidup Ayub melahirkan satu kalimat cetusan dari hatinya yang sedalam-dalamnya kepada Tuhan di tengah kebingungannya. Itu yang dia rasakan di dalam dia menjalani penderitaan dan kesulitan hidupnya. “Sesungguhnya kalau aku berjalan ke timur, Ia tidak di sana; atau ke barat, tidak kudapati Dia; di utara kucari Dia, Ia tidak tampak; aku berpaling ke selatan, aku tidak melihat Dia…” (Ayub 23:8-9).

Sanggupkah kita mengalami Allah dan penyertaanNya di tengah kita tidak merasa mengalami Dia? Asaf mengangkat cetusan hati seperti itu. “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus dan bersih…” Itulah yang dipahami oleh Asaf akan siapa Allah baginya. Namun betapa kontrasnya dengan apa yang dia alami dan dia lihat di dalam realita hidup di depan matanya.

Tahun ini segera akan lalu dan lewat. Kita refleksi perjalanan dan pengalaman hidup kita. Kita juga melihat perjalanan dan pengalaman hidup orang-orang Kristen di sekitar kita. Ada di antara mereka yang memulai hidup kerohaniannya dengan indah tetapi oleh karena mengalami kesulitan di tengah jalan membuat mereka undur dan pergi menjauh dari Tuhan. Normalkah pergumulan iman seperti itu? Asaf mengalami pergumulan seperti itu. Yang sangat penting dari Mazmur 73 adalah pada waktu kita melihat pergumulan iman kita seperti itu, bagaimana kita bisa berbalik kembali.

“Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir…” (Mazmur 73:2). Pengalaman Asaf memperlihatkan meskipun dasar iman kita kuat, pengertian dan pengenalan kita akan Allah kuat, namun kita tidak bisa menghindar dari situasi yang tiba-tiba membuat dasar pijakan itu menjadi goyah dan licin, bisa membuat kita terpeleset dan tergelincir.

Mulai dari ayat 2 -13 kita menemukan perasaan iri, cemburu, tidak puas, kecewa, marah, merasa tidak adil, ini semua emosi negatif kesulitan pergumulan iman dari Asaf yang dengan jujur dan terbuka dia cetuskan dan keluarkan kepada Tuhan dan bukan kepada orang lain. Pada waktu kita berjalan ikut Tuhan, di dalam fase-fase dimana kita merasa tidak mengalami Tuhan dan penyertaanNya, Asaf juga mengalami hal yang sama.

Apa yang paling sulit kita kontrol pada waktu kita menghadapi pergumulan, tantangan dan kesulitan dalam perjalanan iman dan perjalanan hidup kita? Yang paling susah dan sulit dikontrol adalah emosi dan perasaan hati kita, bukan? Paulus di dalam Filipi 4:7 mengatakan, “Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiranmu di dalam Kristus Yesus…” Let the peace of God surpasses all understanding will guard your heart and your mind in Christ Jesus. Demikian juga Amsal 4:23 mengingatkan kita, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan.” Kita harus terus diingatkan, apa yang keluar dari hati kita, apa yang meluap dari emosi kita, itu semua berasal dari hati yang tidak dijaga baik-baik. Tuhan Yesus juga mengingatkan, “Apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat…” (Matius 15:18-19). Sehingga kata “guard your heart” begitu penting di sini, bagaimana segala situasi yang datang ke dalam hidup kita tidak kita biarkan menguasai hati dan emosi kita dan kita dipangil untuk dengan waspada menjaga hati dan emosi kita. Namun harus kita akui betapa sulit dan berat luar biasa menjaga hati dan emosi kita. Asaf di dalam Mazmur ini begitu jujur mengungkapkan perasaan hati dan emosinya, ketika pengalaman dan pergumulan imannya berbenturan dengan pemahaman dan pengertiannya akan siapa Tuhan. Perjalanan iman yang dia mulai dengan bersandar kepada pemahaman, “Sesungguhnya Allah itu baik…” tetapi di tengah perjalanan dia berseru, “tetapi aku, sedikit lagi kakiku terpeleset dan tergelincir…” Kekecewaan, kebingungan, ketidak-mengertiannya, semua itu dia serukan kepada Tuhan.

Kadang-kadang hati kita yang terluka membuat kita sulit berkonsentrasi dan berpegang kepada prinsip-prinsip yang penting; kadang-kadang subyektifitas hati kita yang begitu gampang terpengaruh oleh situasi dan persoalan yang datang membuat emosi kita terombang-ambing. Akhirnya itu membuat kita dengan gampang meledak dan mengeluarkan kata-kata yang akhirnya melukai orang lain yang ada di dekat kita. Perasaan diperlakukan dengan tidak adil, marah melihat unfairness yang terjadi, hal-hal yang buruk yang kita rasa tidak sepatutnya datang ke dalam hidup kita, sakit-penyakit yang menimpa kita, semua itu bisa menjadikan bitterness dan kepahitan berurat akar dengan kuatnya. Penulis Ibrani mengingatkan, “Jagalah supaya jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang…” (Ibrani 12:15b).

Asaf mencetuskan dua reaksi emosi terhadap ketidak-adilan yang dia lihat dan alami, dia iri hati (ayat 3) dan pahit (ayat 21). Asaf melihat ketidak-adilan terjadi di sekitarnya dan terlebih sulit lagi dia kaitkan kenapa Allah melakukan hal itu? Kenapa Allah membuat orang-orang fasik hidup mujur, tidak ada sakit, lancar dan menikmati hidup? Bukankah orang-orang ini congkak dan curang? Bukankah mereka mendapatkan kekayaan dengan memeras orang yang lemah? Bukankah mereka dengan terbuka dan terang-terangan menghina Tuhan? Kenapa Allah tidak menghukum mereka? Kenapa Allah membiarkan mereka seperti itu? Dan sebaliknya kenapa anak-anak Tuhan yang mau menjalankan hidup yang saleh dan bersih kenapa Tuhan tidak memberkati? Bahkan tanpa henti Tuhan biarkan kita mengalami sakit, kemalangan, kesusahan? Kenapa Tuhan membiarkan kita ditipu orang, ditikam dari belakang, dikhianati oleh orang yang paling kita percaya? Inilah kesulitan dan kemarahan yang Asaf serukan kepada Tuhan.

Yang kedua, Asaf mengeluh, “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih dan membasuh tanganku…” (Mazmur 73:13). Ikut Tuhan bukan sekedar mendapatkan pemahaman secara intelektual; bukan sekedar berapa banyak dan berapa akurat pemahaman teologi kita; bukan sekedar kita tahu Allah itu sejati, kudus, baik, tidak berubah, dsb. Kita tidak boleh berhenti sampai di situ. Ikut Tuhan berarti seberapa dalamnya keintiman hati dan perasaan kita di hadapan Tuhan, pada waktu kita merasa tidak mengalami Tuhan dan penyertaanNya.

Mari kita refleksi perjalanan hidup kita tahun ini. Kita mungkin menemukan beberapa titik dimana kita mengalami situasi yang begitu berat dan sulit, kita menanti jawaban dan pertolongan Tuhan yang tidak kunjung tiba. Dari hal-hal yang kita alami itu mungkin tidak membuat keluhan dan gerutu tidak keluar, tetapi tanpa sadar telah mempengaruhi hidup rohani kita. Kita mungkin jadi malas berdoa, kita jadi malas berbakti dan melayani, kita tidak punya gairah dan simpati untuk berdoa bagi pekerjaan Tuhan dan bagi orang lain, kita menghindar dari pertemuan dengan saudara seiman, kita menjadi ‘drifted away’ dan menjauh dari Tuhan. Kita merasa di tengah kesulitan yang tidak kunjung berhenti, Tuhan juga tidak menjawab doa dan permohonan kita, lalu buat apa semua itu? “Seandainya aku berkata, ‘aku mau berkata-kata seperti itu,’ maka sesungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anakmu…” (Mazmur 73:15) menjadi satu warning Asaf kepada dirinya sendiri, jangan sampai segala keluh kesah dan gerutu itu dia keluarkan dari mulutnya dan menjadi batu sandungan bagi orang yang lebih muda dan lebih lemah imannya. Hatinya berteriak, “Sia-sia saja aku mempertahankan hidup yang jujur dan lurus. Sia-sia saja, buat apa aku ke gereja, buat apa aku berbakti kepada Tuhan?” pada waktu itu hampir saja keluar dari mulutnya, dia menahan diri karena dia menyadari ada konsekuensi yang besar dan dahsyat. ‘If I had spoken out like that, I would have betrayed your children.’ Asaf memikirkan dan menimbang baik-baik keputusan apa yang mau dia buat dan dia timbang dengan hati-hati kalimat apa yang harus keluar dari mulutnya.

Yakobus mengingatkan kita, “Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata dan juga lambat untuk marah sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1:19-20). Kita dipanggil untuk cepat mendengar dan peka terhadap kesulitan orang lain, tetapi lambat untuk mengeluarkan keluhan atas kesulitanmu, lambat untuk mencetuskan ketidak-senanganmu, dan tahanlah diri untuk tidak cepat marah. Jangan tergesa-gesa bereaksi dan menumpahkan kalimat keluar dari mulut kita di hadapan orang karena konsekuensinya berbahaya. Perkataan kita mungkin bisa merusak iman orang lain, menjadi batu sandungan dan melemahkan hati mereka juga. Di situlah artinya kita menjaga hati kita dengan penuh kewaspadaan.

Ketiga, turning point terjadi bukan ketika dia lari dari Tuhan, tetapi justru ketika Asaf masuk ke Rumah Tuhan, “…sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah dan memperhartikan kesudahan mereka” (Mazmur 73:17). Perasaan hati, kesulitan emosi Asaf membuatnya hampir saja terpeleset dan tergelincir, kekecewaannya, ketidak-puasannya, itu membuatnya seolah berdiri di atas batu pijakan yang licin. Namun pada waktu Asaf masuk ke dalam Rumah Tuhan, Asaf belajar melihat semua itu dari sudut pandang yang luas dan besar, satu big picture dari perspektif atas.

Belajar bukan saja menjaga hati dengan segala kewaspadaan, bukan saja memakai rational thinking di dalam mengamati segala di sekitar kita. Tetapi sebagai anak-anak Tuhan kita belajar melihat ‘beyond our rational thinking’ kepada apa yang kita sebut ‘spiritual thinking.’ Di dalam rational thinking kita memasukkan cost dan benefit, risk dan consequences, planning A dan B. Itu adalah aspek yang penting dan patut ada karena itu yang membuat kita hati-hati di dalam mengambil setiap keputusan dan meletakkan segala sesuatu. Tetapi orang Kristen yang mengatakan, “Asal ikut Tuhan, tidak perlu memikirkan apa saja’ itu adalah prinsip yang tidak bertanggung jawab. Namun kita dipanggil Tuhan bukan saja memakai rational thinking, Tuhan mau kita melihat dari perspektif ‘big picture’ terhadap semua yang ada di dalam spiritual thinking kita. Tuhan ingin kita melihat bagaimana Ia bekerja dan campur tangan di dalam setiap planning dan perencanaan kita.

Terakhir, Asaf mengeluarkan kalimat yang agung ini, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya…” (Mazmur 73:25-26). Puji Tuhan, Asaf tidak lari dari Tuhan tetapi justru dia datang ke Rumah Tuhan, dan dari situ dia bisa melihat dari perspektif yang lebih luas bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup ini. Perubahan total terjadi dalam hidupnya. Dari hati yang iri melihat kemakmuran orang, apakah dia akan puas kalau Tuhan balik itu semua, membuat dia memiliki kemakmuran yang sama seperti mereka? Saya percaya itu bukan menjadi hal yang dia minta. Asaf sampai kepada satu tahap dimana yang diminta olehnya tidak ada yang lain selain Allah sendiri menjadi miliknya dan bagian hidupnya. Itu akan membuat hatinya puas, indah, bersih, agung dan mulia adanya.

Thomas a Kempis dalam bukunya “The Imitation of Christ” mengatakan mari kita berhasrat akan Tuhan lebih daripada apa yang Ia beri kepada kita. Mari kita berhasrat akan Tuhan lebih daripada segala-galanya. Mari kita menginginkan Tuhan sang Pemberi lebih daripada pemberianNya untuk kita perlukan bagi hidup.

Hasrat akan Tuhan menjadi keinginan Asaf yang terakhir sebab dia tahu pada akhirnya sukacita kita, kenikmatan kita, enjoyment kita adalah karena kita memiliki Tuhan yang menjadi bagian dalam hidup kita. Tuhan yang seperti apa? Mari kita renungkan hari ini. Dia Tuhan yang baik, Tuhan yang agung dan mulia, Tuhan yang berdaulat, Tuhan yang tidak pernah meninggalkan setiap kita. Itulah Tuhan yang Imanuel, Allah beserta kita. Sanggupkah engkau dan saya mengalami Tuhan pada waktu kita merasa Tuhan tidak hadir dan tidak menyertai kita?(kz)